JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Meski Tak Seasal, Reog dan Jathilan Bisa Jadi Ikon Gunungkidul

Ilustrasi reog
Ilustrasi/Tribunnews

GUNUNGKIDUL– Meskipun tak berasal dari Gunungkidul, namun kesenian reog dan jathilan bisa menjadi ikon bagi kota Gaplek, Gunungkidul.  Hal itu karena, kedua kesenian tersebut dinilai memiliki perkembangan yang baik dan dapat diterima oleh masyarakat Gunungkidul.

Karena itu, tarian Reog dan Jathilan mendapat perhatian khusus dari Dinas Kebudayaan (Disbud) Gunungkidul.

Kepala Bidang Seni Adat dan Tradisi Disbud Gunungkidul, Restu Raharja mengungkapkan jika tarian Reog dan Jathilan mempunyai perkembangan yang baik, dan dapat dijadikan ikon Gunungkidul kedepannya.

“Meskipun tidak berasal dari Gunungkidul, Reog dan Jathilan mempunyai perkembangan yang baik serta mempunyai potensi unggulan Gunungkidul,” terangnya di sela-sela workshop dan pelatihan reog dan jathilan di Bangsal Sewoko Projo, Rabu (25/4/2018).

Baca Juga :  Pelanggar Protokol Kesehatan di Yogyakarta Bisa Pilih Sendiri Hukumannya, Mulai dari Push-up, Menyapu Jalan, hingga Denda

Namun para seniman reog dan jathilan masih belum mampu mengemas pertunjukan secara menarik, dengan dasar itu berbagai upaya telah dilakukan Disbud Gunungkidul.

“Satu diantaranya adalah memberikan pelatihan, sehingga dalam menampilkan tarian reog dan jathilan tidak terkesan ala kadarnya,” terangnya.

Selanjutnya Restu mengatakan poin edukasi menjadi poin terpenting selain kemasan pertunjukan yang baik, sehingga dapat membantu potensi wisata yang ada di Gunungkidul.

“Untuk menarik minat masyarakat, penggarapan konsep tradisi yang layak sangat penting serta dapat atraktif dan memasukkan nilai edukasi di setiap pertunjukkan,” terangnya.

Selanjutnya satu di antara pelatih reog, Muryanto mengatakan, kemasan dalam penampilan kesenian Reog dan Jathilan memang perlu adanya, selain itu perlu memasukkan nilai sejarah dalam pementasannya.

Baca Juga :  49 Mahasiswa Panitia PPSMB 2020 UGM Jalani Isolasi Covid-19

“Cerita sejarah bukan selalu yang sudah melegenda tetapi bisa cerita-cerita lokal yang diangkat, lewat kesenian reog atau jathilan,” terangnya.

Ia menambahkan pemilihan kostum saat pentas juga dapat menarik penonton, lalu dari segi gerak dan kekompakan juga menjadi hal yang menarik untuk para penonton.

“Yang tidak kalah penting adalah keserasian antara musik dan gerak, baik untuk reog maupun jathilan,” imbuhnya.

Ia berharap agar pegiat kesenian reog dan jathilan dapat memahami hal tersebut, sehingga kesenian reog dan jathilan di Gunungkidul dapat mengikuti perkembangan.

www.tribunnews.com