JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Warga Penolak Bandara Kulonprogo Tetap Ngotot Sampai Mati

Tribunnews

KULONPROGO- Matahari baru saja meninggi, lepas dari pukul 10.00 Wib, ketika petugas dari PT Angkasa pura 1 yang didampingi pihak kepolisian mengantar surat peringatan (SP) 3 kepada warga penolak pembangunan bandara di Kulonprogo.

Tidak seperti tamu yang diharapkan datang. Kehadiran petugas disambut sikap dingin warga. Surat yang telah disiapkan untuk warga tak pernah sampai. Warga menolak. Petugas pun tersenyum getir. Usai surat ditolak, tak butuh waktu lama, rombongan bergeser ke rumah yang lain.

Namun sama saja. Warga lain tetap saja menolak. Satu di antara warga penolak surat peringatan adalah Rahmat (42). Dari balik etalase toko rumahnya di Padukuhan Kragon II, Desa Palihan, wajahnya tampak geram terhadap petugas yang datang siang itu.

Sorot matanya tajam, bibirnya terkatup. Namun, alisnya mengerut ke atas kening, tanda ia tak suka rumahnya didatangai petugas. Kepada Tribun Jogja, ia mengatakan dirinya tak pernah tahu untuk apa dan tujuan apa, surat peringatan dari PT Angkasa Pura 1 itu dialamatkan kepada dirinya.

“Saya tidak tahu surat itu surat apa, tulisannya apa. Saya tidak tahu. (yang jelas) Saya akan tetap di sini, ini rumah saya,” ucapnya tegas.

Rumah Rahmat berada hanya sejengkal dari jalan utama Daendels. Penampakannya sederhana, berwarna orange. Bagian depan, terpasang etalase yang digunakan sebagai toko. Aneka jajanan, dan makanan ringan tampak ada di sana. Termasuk bensin yang dijual secara eceran.

Baca Juga :  Satu Mahasiswa Positif Covid-19, Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Hentikan Aktivitas dan Tutup Satu Fakultas

Dari hasil toko inilah Rahmat menggantungkan hidupnya setiap hari.

“Saya membangun toko ini tidak mudah. Dari awal kecil hingga saat ini. Dari hasil jualan seperti ini, saya sudah cukup untuk memenuhi hidup,” terang dia.

Ia kemudian bercerita tentang masa mudanya yang dilewatkan dalam dunia perantauan.

Beberapa daerah ia singgahi. Namun, dari semua daerah yang dikunjungi, diakuinya tak pernah memberinya banyak kebahagiaan.

“Kecuali di kampung halaman ini. Di sini tempat yang paling enak. Adem, ayem, uripe tenang. Orang bilang di sini surganya Kulonprogo, air nggak usah beli. Kalau nanem apa saja pasti hasil,” tuturnya.

Itu sederet alasan, mengapa Rahmat tak pernah mau meninggalkan rumah dan lahan yang menjadi tumpuan harapannya. Matahari kian meninggi. Langit cerah, dan hawa gerah mulai menyandera tubuh.

Selayang pandang mata memandang di depan rumah Rahmat hanya terlihat hamparan lahan luas yang ditumbuhi ilalang. Terlihat jauh di ujung sana, terdapat alat-alat berat yang tengah bekerja. Sesekali terdengar dentuman-dentuaman keras menggema.

Lepas dari rumah Rahmat, di depan bangunan masjid Al-hidayah, masjid satu-satunya yang masih tersisa, sekelompok warga penolak penggusuran bandara tengah bercengkerama.

Mereka duduk-duduk di serambi bangunan masjid. Asyik bergurau bersama. Salah satunya adalah Trijaya, ia adalah perempuan yang menolak pindah, meski PT Angkasa Pura 1 tak henti-hentinya selalu memaksa.

“Hidup mati saya di sini.. “ucapnya bergetar, ketika mengungkapkan alasan mengapa masih tetap tinggal.

Baca Juga :  SMKN 1 Girisubo Gunungkidul Mbangun Desa, Ciptakan Alumni yang Mampu Produktif dan Menciptakan Desa Industri Mandiri

Ia mengaku tak terbesit sedikitpun untuk pindah meninggalkan rumah dan lahannya untuk pembangunan bandara. Bahkan diakuinya, suami dan ketiga anaknya berdiri sekeyakinan, menolak pindah.

“Air udara dan tanah memang milik negara. Tetapi semua digunakan untuk kesejahteraan siapa, untuk rakyat,” ujarnya.

Ia mengaku tak rela jika rumah dan tanah miliknya diserahkan kepada PT Angkasa Pura untuk pembangunan bandara.

“Nenek moyang kita berjuang mati-matian membebaskan tanah untuk rakyat, bukan untuk bandara,” tegas dia lagi.

Mereka terlihat masih asyik bercengkerama. Cara ini bisa jadi hiburan satu-satunya yang dimiliki oleh puluhan warga penolak penggusuran pembangunan bandara. Mereka terlihat seperti tanpa beban, merenda waktu bersama. Bercerita tentang apa saja.

“Kami di sini sudah seperti saudara. Susah, senang, duka, kami lewati bersama,” ujar Trijaya.

“Atas semua cobaan ini. Saya tidak pernah mengeluh. Mungkin besok Tuhan akan mengganti lebih baik lagi,” ucapnya.

Ketika berucap wajah Trijaya tampak penuh keyakinan. Tak tersirat sedikitpun keraguan. Ia mengaku akan tetap bertahan demi perjuangan atas tanah dan rumahnya.

“Orang berjuang tidak pernah memikirkan harta. Kata Kakek saya, orang berjuang itu yang dipikirkan apakah besok masih hidup atau tidak,” tegas dia.

Lebih lanjut, ia kemudian bercerita bahwa kakek buyutnya adalah seorang veteran perang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

“Dari kakek, saya mengenal arti perjuangan,” ungkapnya.  

www.tribunnews.com