loading...
Loading...
joglosemarnews/A Setiawan

KLATEN –  Dalam budaya dan tradisi Jawa,  khususnya dalam cerita jawa tidak lepas dari properti yang berupa payung, payung yang sering digunakan dalam kraton maupun masyarakat tempo dulu.

Hal ini yang mendasari masyarakat Gumantar RT 01 RW 03, Tanjung, Juwiring Klaten menjadi perajin payung. Klaten (28/08/18).

Payung zaman dulu tidak hanya digunakan untuk melindungi dari panas maupun hujan, karena payung zaman dulu digunakan untuk simbol siapa yang ada di balik payung tersebut dan apa jabatannya.

Baca Juga :  Cegah Konflik Pasca Pilkades, Brimob Polda Perketat Pengamanan di Klaten 

“Payung tradisional seperti ini sekarang sudah tidak banyak yang membuat, maka kami masyarakat di Desa Gumantar berusaha melestarikan ini, jangan sampai payung-payung seperti ini diklaim oleh bangsa lain,’
ujar Wigit Gunarto selaku pemilik kerajinan payung Honocoroko kepada joglosemarnews.com.

“Payung tradisional seperti ini sudah ditiru oleh beberapa negara asing, contohnya Cina dan Thailand. Oleh karena itu jangan sampai tidak ada masyarakat Indonesia yang mau melestarikan hasil karya anak bangsa,” imbuhnya.

Baca Juga :  Perhitungan Suara Pilkades Klaten Dijaga Ketat Personel Brimob Polda Jateng. Calon Kades Diminta Sportif 

Wigit Gunarto juga menambahkan, ukuran payung yang sering  dibuat ada 3 macam, yaitu ukuran diameter 60 cm, 80 cm dan 100 cm.

“Kami juga bisa membuat payung sesuai pesanan atau seperti payung kerajaan, dengan macam-macam motif bordir, lukis, klasik ( Jawa ).” #A. Setiawan

Baca Juga :  Cegah Konflik Pasca Pilkades, Brimob Polda Perketat Pengamanan di Klaten 

Loading...