loading...
Kondisi rumah warga di Gumantar, Lombok Utara yang hancur pasca gempa dahsyat. Foto/Humas Kab

MATARAM – Gempa bumi 7 SR di Lombok NTB pada Minggu(19/8/2018) dan diikuti dengan belasan gempa susulan hingga Senin(20/8/2018) pagi. Ini membuat warga Kota Mataram memilih untuk menetap di pengungsian.

“Tidak berani pulang. Rumah retak-retak. Siapa tahu ada gempa susulan,” ujar Nursan, warga Dasan Agung, Selaparang, Mataram, Senin, (20/8/2018).

Nursam beserta istri dan ibunya mengungsi di Islamic Center Nusa Tenggara Barat, Jalan Udayana, Kota Mataram. Ia bersama ratusan warga lainnya berjejalan di tenda-tenda seadanya buatan warga serta beberapa bantuan dari Palang Merah Indonesia.

Baca Juga :  Tak Heran Penangkapan oleh KPK, MAKI Klaim Sudah Tahu Lama Nurhadi Ada di Simprung Jaksel

Nursan pun meliburkan diri dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan di Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. “Sehari ini saja liburnya,” ujar pria 56 tahun tersebut.

Sebenarnya tak ada pemberitahuan resmi dari kantornya mengenai hari libur ini. Namun, ia mengatakan setiap ada gempa besar otomatis kantornya diliburkan. “Siapa tahu ada gempa susulan besar, terus pegawai tidak bisa pulang,” ucapnya.

Baca Juga :  Tagar #BoikotTVRI Bikin Eks Dirut TVRI, Helmy Yahya Prihatin

Meski masih banyak warga yang memilih menetap di tempat pengungsian, kantor bank dan pemerintahan di Kota Mataram tetap buka. Kantor Bank Indonesia di Jalan Pejanggik Kota Mataram, misalnya, membuka beberapa tenda di halaman.

Terlihat beberapa pegawai sibuk menghadap masing-masing layar komputer di dalam tenda tersebut. Warga lainnya juga masih banyak yang hilir-mudik menggunakan kendaraan bermotor.

www.tempo.co