loading...
Loading...
Sebagian peserta seminar berfoto bersama usai seminar selesai. Foto: JSNEWS

SOLO-Gedung Societet Sasana Soeka  Mangkunegaran atau yang sekarang bernama Gedung Monumen Pers Nasional (MPN) tidak hanya sebagai bangunan yang menyimpan benda-benda besejarah menyangkut perjalanan jurnaslisme  tanah air. Namun, bangunan yang kini menjadi Monumen Pers Nasional ini punya simbol nasionalisme dan kebangsaan yang kuat.

Spirit nasionalisme, budaya, dan kebangsaan sangat kental dengan Gedung Societet Sasana Soeka yang dibangun  tahun 1918 ini. Banyak peristiwa sejarah yang terukir dari gedung yang terletak di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Timuran ini.  Salah satu yang cukup fenomenal adalah berkumpulnya para wartawan dari seluruh nusantara untuk turut andil mempertahankan kemerdekaan Indonesia lewat karya tulisan merela.

Demikian diungkapkan sejarawan sekaligus budayawan , Taufiq Rahzen saat menjadi pembicara pada acara Seminar Nasional memperingati satu abad gedung Societet Sasana Soeka Mangkunegaran, Jumat (26/10/2018). Seminar nasional yang mengambil tema “Seabad Gedung Societeit Mangkunegaran, Tonggak Perjuangan Pers Merajut Kebhinekaan dan Menegakkan Pancasila tersebut menampilkan dua pembicara yakni Taufiq Rahzen dan Ismail Cawidu, staf ahli Kominfo.

“Gedung  Monumen Pers Nasional itu bukan sekedar urusan media. Ini bukan hanya sebuah bangunan yang menyimpan benda-benda sangat berharga. Tapi gedung ini juga menjadi simbol tentang gagasan-gagasan keindonesiaan, kebhinekaan, gagasan tentang kebudayaan manusia Indonesia serta spirit nasionalisme. Dan gerakan-gerakan nasionalise itu banyak dimulai dari Solo,” ungkap Taufiq di hadapan peserta seminar.

Baca Juga :  Adik Jan Ethes Bernama La Lembah Manah, Ini Artinya La Menurut Gibran, Lembut Anakku, Luwes Anakku, Lomo Anakku

Ditambahkannya, gedung yang kini berusia genap seabad  itu memiliki sejarah panjang yang bisa mewarnai dan mengubah tatanan baik sendi sosial, budaya, politik serta dinamika dunia jurnalistik di Indonesia.  Gedung ini mewakili aktifitas kebudayaan, gerakan kewartawanan dan konsep arsitektur baru saat itu.

Sementara itu Ismail Cawidu menyatakan,  Gedung Monumen Pers memiliki peran ke depannya di era kekinian yang memasuki revolusi ke empat disrutif 4.0  menjadi tonggak dan cerminan sejarah, jangan sampai Indonesia ke depan sejarahnya dibelokkan. Materi di museum pers berupa jutaan lembar media cetak diubah dalam format digital, dapat diakses oleh generasi milenial agar generasi muda mengetahui seluruh konten media di seluruh Indonesia. “Apa yang tersimpan di gedung itu merupakan cerminan perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang terdiri dari ratusan suku serta ratusan bahasa tersebar di seluruh tanah air Indonesia serta narasi tentang perjalanan bangsa. Itu diwujudkan dari konten-konten yang ada dalam media yang tersimpan di monumen pers,” ungkap Ismail Cawidu.

Direktur Jenderal IKP (Informasi dan Komunikasi Publik) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) , Rosalita Niken Widiastuti menjadi keynote speech dalam seminar nasional yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan tersebut. Seminar dimoderatori oleh Ketua  PWI Surakarta, Anas Syahirul dan berlangsung di Ballroom Hotel Sahid Jaya.

Menurut Dirjen IKP Kominfo Niken Widiastuti dari sejarah MPN generasi muda dapat mendapat semangat untuk mengisi kemerdekaan Indonesia. “Bayangkan waktu tahun 1946 -an para wartawan berangkat dari Sumatera, Kalimantan dan kota -kota lain untuk menuju kota Solo dengan satu semangat untuk mengikuti pembentukan organisasi profesi kewartawanan pertama yaitu PWI (Persatuan Waratawan Indonesia) terbentuk pada 9 Pebruari 1946, tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia dan Hari Pers Nasional.

Baca Juga :  Karya Bakti Daerah Tahap V Di Kelurahan Joyosuran Ditutup

Taufik Rahzen mengungkapkan peristiwa unik dan fenomenal di Societeit Sasana Suka Mangkunegaran, dimana saat itu tahun 1934, dari Societet  dilakukan rekaman gending-gending melalui gelombang radio MW dipancarkan. Siaran dari Societet itu  ditangkap di negeri Belanda untuk mengiringi tarian Jawa yang digelar di kerajaan Ratu Belanda saat itu. “Saat itu menyiarkan radio dengan menggabungkan gending-gending karawitan dari Solo, untuk mengiringi tarian Jawa di Istana kerajaan Belanda di benua Eropa yang jaraknya ribuan kilometer merupakan peristiwa budaya sekaligus era teknologi modern,”papar  Taufik Rahzen.

Rahzen berharap peran MPN sebagai simbul gagasan ke Indonesiaan, gagasan ke Bhinekaan terus hidup dan berkembang sampai masa depan. “Generasi muda dapat mencari inspirasi di MPN untuk memulai gagasan baru bersumber ilham dari, berbagi peristiwa sejarah yang ditulis di jutaan copy koleksi MPN. Ada banyak cerita yang bisa diambil dari Monumen Pers Nasional tersebut,”ujarnya. (triawati purwanto).

Loading...