loading...


tempo.co

SLEMAN – Festival gerobak sapi yang berlangsung Minggu (21/10/2018) di Lapangan Pokoh, Wedomartani, Ngemplak, Sleman kemarin cukup menarik minat bagi mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Bahkan saking kepencutnya SBY, ia rela merogoh kocek hingga Rp 40 juta untuk memboyong salah satu dari gerobak tersebut. Ada sedikitnya  150 gerobak yang ikut serta dalam festival tersebut. Gerobak yang hadir di sana tak hanya gerobak biasa. Para peserta festival meng-kustom gerobak dengan banyak hiasan.

“Ada sembilan gerobak kustom yang dipakai.  Salah satunya sudah dibeli oleh pak SBY,” kata Nuryanto, Ketua Panitia Festival Gerobak Sapi 2018,  Minggu (21/10/2018).

Saat ini gerobak sapi tak lagi banyak untuk angkutan sayuran. Namun  menjadi klangenan, hobi dan simbol prestius dari para pemilik sapi dan gerobaknya. Sapi penarik gerobak pun tak kalah kerennya. Tidak sembarang sapi memiliki kemampuan untuk menarik gerobak sapi, sehingga harga sapi pun bervariatif menjulang tinggi.

Baca Juga :  Buntut Kecelakan Permainan Bianglala di Pasar Malam Sekaten Yogyakarta, Pemkot Yogya Desak Cek Ulang Seluruh Wahana

Gerobak sapi kini menjadi ikon wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta.  Gelaran festival ini tetap mengedepankan atraksi budaya yang kental dengan kehidupan pedesaan lengkap dengan pawai, lomba off road atau ketangkasan, lomba kustom.

SBY, kata Nuryanto harus mengeluarkan kocek lebih dari Rp 40 juta untuk membeli. Roda gerobak yang saat ini diganti dengan roda ban truk, gerobak yang dipesan mantan presiden itu tetap seperti aslinya, yaitu dengan roda kayu yang dilapisi dengan besi.

Baca Juga :  Pemda DIY Mengak Rugi Gelar Tes Seleksi CPNS, Ini sebabnya

Bagian-bagian dari gerobak sapi ini antara lain ujung melengkung di depan seperti bajak kayu yang disebut trucuk. Kayu  gerobak pilihan SBY ini adalah kayu nangka tua.  Warna kayu cenderung kuning. Lalu ada anyaman di kiri dan kanan gerobak yang disebut gribik.  Penutup di belakang disebut tepong.

Kelengkapan lainnya adalah rem yang disebut klusut.  Lalu tali rem disebut gulak. Ada juga kayu untuk tempat leher sapi yang disebut sambilan. Sedangkan kayu pengunci leher sapi disebut angkul-angkul. Untuk memacu dan mengontrol laju sapi ada dadung atau tali sapi. “Ada tumpangsari  yaitu tempat bajingan (pengemudi gerobak sapi) duduk mengendalikan sapi,” kata Nuryanto.

Masih banyak bagian gerobak sapi untuk melengkapi kendaraan tradisional ini. Untuk membuatnya, dibutuhkan waktu hingga satu bulan. Biayanya mencapai puluhan juta rupiah tergantung besar, kecil dan bahan yang digunakan. “Tinggal proses pengiriman ke Cikeas (rumah SBY),” kata Bowo Hasto Nugroho, salah satu panitia festival.

Baca Juga :  Kecelakaan Permainan Bianglala di Pasar Malam Sekaten Alun-alun Utara Yogyakarta. Begini Kronologinya

www.tempo.co

Loading...