loading...
ilustrasi

JAKARTA – Para pemilih milenial memiliki kencenderungan memilih seorang presiden yang tegas dan menawarkan program-program konkret. Selain itu, mereka juga menilai bahwa seorang presiden juga harus mempu mengeksekusi keputusan.

Hal itu diungkapkan oleh pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro. Dia mengatakan, pemilih dari kalangan kategori usia tua dan pemilih muda alias milenial memang memiliki perbedaan selera yang cukup mendasar dalam memilih capres.

Baca Juga :  Debat Perdana, Panas Soal Korupsi. Jokowi Serang Parpol Dengan Caleg Eks Koruptor Terbanyak, Prabowo Perluas KPK di Semua Daerah

“Milenial biasanya memiliki preferensi sendiri untuk pilihan calon presidennya,” kata Siti saat ditemui seusai konferensi pers Perkumpulan Swing Voters di Kafe Anomali, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (20/10/2018).

Selera milenial itu berkebalikan dengan karakter presiden favorit kaum orang tua. Menurut Siti, para orang tua cenderung memilih pasangan calon yang kalem dan agamis. “Yang enggak banyak cengengesan ini lebih banyak disukai orang tua,” kata Siti.

Adapun kelompok milenial ini umumnya mendominasi pemilih mengambang atau swing voters. Artinya, mereka cenderung memiliki pilihan yang tak pasti atau bisa berubah-ubah. Pemilih mengambang juga dapat menimbang keputusan sampai detik-detik terakhir berada di dalam bilik suara.

Baca Juga :  Cegah Penyebaran Hoax, WhatsApp Batasi Fitur Forward Pesan Kini Hanya Bisa ke 5 Orang

Sedangkan kelompok orang tua, kata Siti, cenderung sudah memiliki pilihan yang tetap. Dalam menentukan pilihan ketika Pemilu, Siti mengatakan para generasi tua cenderung sudah menentukan capres yang bakal dicoblos jauh-jauh hari.

Baca Juga :  Ini Kronologi Pro Kontra Rencana Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir

www.tempo.co


Loading...