JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Ingat. Jangan Beri Makan Kera di Wonogiri, Justru Ini yang Bakal Terjadi

Kera liar di sekitar Gunung Gandul Wonogiri.JSNews/Aris Arianto
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Kera liar di sekitar Gunung Gandul Wonogiri.JSNews/Aris Arianto

WONOGIRI—Serangan kera ekor panjang atau macaca fascicularis hingga kini masih kerap terjadi di sejumlah daerah di Wonogiri. Disebut-sebut serangan terjadi lantaran pasokan makanan di hutan menipis.

Namun demikian, masyarakat diimbau masyarakat Wonogiri tidak memberi makan kera ekor panjang itu. Pasalnya dapat menyebabkan hewan tersebut ketergantungan kepada manusia.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Mineral (BKSDA) Jawa Tengah, Suharman, mengatakan dengan diberinya makanan dapat membuat naluri kera terhadap alam menjadi hilang. Justru kemudian muncul sifat ketergantungan pada manusia.

Baca Juga :  Kabar Duka dari Pracimantoro, Pasien Positif Corona Asal Kecamatan Pracimantoro Wonogiri Meninggal Dunia

“Sebaiknya tidak dilakukan pemberian makanan, biarkan monyet ekor panjang mencari makan secara alami untuk mencapai keseimbangan alam,” ujar dia, Rabu (21/11/2018).

Dia meminta pada warga agar kawanan monyet tersebut dibiarkan saja dalam mencari makan. Dikawatirkan pula apabila diberi makanan, bisa jadi kawanan kera tersebut masuk ke permukiman atau menjarah lahan pertanian warga.

Apabila kawanan kera ekor panjang telah sangat meresahkan dipersilakan untuk melakukan cara-cara budaya kearifan lokal masyarakat setempat. Dia menyebut kawanan kera ekor panjang bukan merupakan binatang yang dilindungi secara undang-undang sehingga diperbolehkan untuk dibunuh.

Baca Juga :  Kabar Duka, Warga Kasihan Kecamatan Ngadirojo Wonogiri Ditemukan Meninggal Tergantung di Pohon Kenanga Depan Rumah

Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan delapan dari 25 kecamatan tergolong rawan serangan kera ekor panjang saat musim kemarau. Kecamatan tersebut antara lain Wonogiri, Eromoko, Selogiri, Manyaran, Nguntoronadi, Wuryantoro, Ngadirojo, dan Jatisrono. Aris Arianto