JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

KPK Sebut, Bonus Esek-esek Dapat Dijerat Pasal Pidana

Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA –  Bonus esek-esek alias gratifikasi seks dapat dijerat dengan pasl pidana. Apalagi jika pemberian itu terdapat ubsur menyalahgunakan wewenang, pemberian izin dan lain-lain.

Demikian diungkapkan oleh  Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),  Alexander Marwata,  Rabu (30/1/2019).

“Kalau di beberapa negara memang sudah masuk pemberian gratifikasi, saya pikir itu kan pemberian hadiah juga, yang membiayai orang lain,” kata Alex di kantornya, Jakarta.

Alex menuturkan dalam gratifikasi seks, pemberi mengeluarkan uang untuk membiayai layanan seks bagi penerima gratifikasi. Dia mengatakan nilai gratifikasi seks dapat diukur dari besaran biaya yang dikeluarkan oleh pemberi gratifikasi kepada penyedia jasa prostitusi.

Baca Juga :  Kabar Buruk, Menkeu Sri Mulyani Prediksi Indonesia Resmi Alami Resesi pada Akhir September, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2020 Masih Negatif

“Mestinya bisa dijerat sebagai gratifikasi, apalagi bila dalam pemberian itu ada sesuatu yang diberikan oleh penerima,” katanya.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah diatur bahwa gratifikasi didefinisikan bukan pemberian uang atau barang secara langsung.

Dalam UU tersebut yang dimaksud gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya.

Undang-Undang Tipikor menyebut gratifikasi tersebut bisa diterima baik di dalam maupun luar negeri, dan dilakukan dengan sarana elektronik maupun non-elektronik.

Baca Juga :  Baru Kenal 4 Hari, Pasangan Remaja Usia Belasan Tahun Ini Langsung Dinikahkan. Gara-garanya, Pergi Jalan-jalan Berdua dan Baru Pulang Selepas Maghrib

Dugaan pemberian gratifikasi seks pernah mencuat dalam beberapa kasus yang ditangani KPK, misalnya kasus suap hakim Pengadilan Tipikor Bandung, Setyabudi Tejocahyono yang mencuat medio 2013 silam.

Tejo diduga tak hanya menerima uang suap, tapi juga gratifikasi seks dari pengusaha Toto Hutagalung. Pemberian itu berkaitan dengan kasus korupsi dana bantuan sosial yang sedang diadili di pengadilan Tipikor Bandung. Dalam kasus itu, Setyabudi telah divonis 12 tahun penjara. #tempo.co