loading...
Loading...
Rombongan bupati saat menyambangi kediaman mantan Bupati Untung Wiyono (kiri) dan Agus Fatchur Rahman (kanan). Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Anjangsana ke mantan bupati dalam rangka HUT Sragen 2019 juga digelar di kediaman dua pemimpin terakhir, Untung Wiyono dan Agus Fatchur Rahman.

Setelah menyambangi kediaman Soedjadi dan HR Bawono, rombongan bupati dan jajaran Muspida bergerak menuju kediaman Untung Wiyono di Dayu, Karangmalang, Sragen.

Untung yang tak lain adalah ayahanda Yuni, menyambut baik kedatangan rombongan bupati dan Muspida.

Baca Juga :  Gara-gara Diang, Kebakaran Hanguskan Rumah Warga Sumberlawang Sragen. Warga Panik Berhamburan Bantu Pemadaman 

Ia yang pernah dua periode memimpin Sragen, mengapresiasi apa yang sudah dicapai dan diraih Sragen saat ini. Menurutnya kondisi Pemkab dan pengelolaan sudah jauh berbeda dengan masa saat dirinya memimpin.

“Sekarang anggaran sudah banyak. Beda dengan dulu,” paparnya.

Ia mengapresiasi silaturahmi yang dijalankan ke mantan-mantan bupati. Ia berharap itu menjadi tradisi dan ke depan dilanjutkan.

“Ini tradisi yang bagus ya budaya silaturahmi Hablum Minannas. Tradisi ini harus dilanjutkan terus agar jadi budaya,” kata Untung.

Baca Juga :  Puluhan Warga Kena Denda Hingga Belasan Juta, Warga Sambirejo Sragen Nekat Melawan dan Hadang Petugas Operasi Listrik

Silaturahmi kemudian berlanjut ke kediaman mantan bupati Agus Faturrahman di Jl Aipda KS Tubun, Kampung Kuwungsari, Sragen.

Suasana di kediaman Agus FR terlihat sangat cair. Sesekali perbincangan diselingi dengan candaan.

Tak banyak yang disampaikan Agus. Ia hanya menyebut tradisi itu bagus.

“Silaturahmi itu bagus, harus dilanjutkan,” terangnya.

Baca Juga :  Kasus Pengadaan Komputer SID 196 Desa di Sragen Digoyang Rumor Tak Sedap. Pelapor Ungkap Kabar Indikasi Urunan Pengondisian, Kajari Membantah 

Sementara Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan acara anjangsana ke mantan bupati itu memang baru kali pertama digelar selama 3 tahun kepemimpinannya. Tujuannya menghormati jasa para pemimpin Sragen yang pernah mengemban tugas di Sragen.

“Para bupati yang sudah tiada saja makamnya dikunjungi, mosok ini para bupati sepuh yang masih sugeng (hidup), tidak kita kunjungi,’’ tuturnya. Wardoyo

 

Iklan
Loading...