loading...
Pramesti asal Solo saat mangkal melayani jasa penukarang uang baru di tepi Jalan Raya Sukowati Sragen saat mendekati Lebaran lalu. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Momen bulan ramadhan dan mendekati Lebaran menjadi lahan pencaharian baru bagi para penjual jasa penukaran uang baru. Tak hanya di kota besar seperti Solo, di Sragen pun, dalam beberapa tahun terakhir, deretan penjual jasa penukaran uang baru juga bermunculan menghiasi tepi jalan protokol.

Salah satunya, Pramesti (40) asal Solo. Selama bulan ramadhan hingga Lebaran, ia setiap hari rela berangkat dari Solo ke Sragen untuk menjajakan uang barunya.

“Sudah sejak tiga minggu kita mangkal di sini. Saya sudah 10 tahun melayani jasa penukaran uang baru setiap mendekati Lebaran. Kalau dibanding tahun lalu, sama saja,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Menurutnya, dari tahun ke tahun, jasa penukaran uang baru memang cenderung agak sepi. Hal itu jauh berbeda dengan 10 tahun lalu ketika jasa penukaran uang di jalanan baru awal-awal muncul.

Pramesti mengisahkan, awalnya dulu hanya ada 4 hingga 5 orang saja yang membuka layanan jasa penukaran uang baru di jalan. Namun makin ke sini, jumlahnya makin banyak.

Baca Juga :  Update Corona Sragen 30 Mei, ODP Tambah 3, PDP Tambah 2. Total 32 Warga Positif, 24 Sembuh, Total 18 Meninggal Dunia

Bahkan saking banyaknya yang beroperasi di Solo, ia dan beberapa temannya terpaksa harus hijrah dan mencari lahan baru di Sragen.

“Sudah beberapa tahun saya di Sragen. Tiap hari berangkat dari Solo. Nanti mangkal jam 08.00 sampai jam 18.00 WIB pulang lagi ke Solo. Hasilnya ya nggak tentu Mas. Namanya saja rejeki. Kadang sehari bisa laku Rp 2 juta, kalau ramai bisa Rp 5 juta,” tuturnya.

Dagangan uang baru didapat dari menukar di Bank Indonesia Solo. Saat ditanya berapa keuntungan atau jasa yang ia peroleh?

Pramesti mengaku setiap Rp 1 juta uang ditukar, jasanya dipatok antara 5-10 persen. Namun yang paling banyak, adalah 10 persen atau setiap Rp 1 juta ditukar Rp 900.000 uang baru.

“Kadang ya ada yang nawar. Tapi kalau enggak cocok ya nggak kita kasihkan. Karena uang baru itu kita dapatnya juga antri di BI Mas. Kita pengeluarannya juga gede,” tuturnya.

Baca Juga :  Siapkan 8.000 Rapid Test Kit, Hari Ini Pemkab Sragen Mulai Geber Rapid Test Massal dari Sambirejo. Sasarannya Para Tokoh Agama, Satgas, Pedagang hingga Ibu Hamil!

Senada, Wid, salah satu penjual jasa penukaran uang baru yang mangkal di Sragen Kota, juga mengaku soal keuntungan, relatif bervariasi. Kadang sehari bisa menjual Rp 2 juta, kadang juga bisa mencapai Rp 6 juta.

“Pokoknya setiap Rp 100.000 kita tukar uang baru Rp 90.000. Macam-macam, ada yang ditukar Rp 20.000an, Rp 10.000an dan Rp 5.000an. Kadang juga campur, ada dicampur pecahan Rp 2.000an. Tergantung permintaan,” terangnya.

Ia menambahkan rata-rata pembeli uang baru itu berasal dari warga sekitar. Namun kadang juga ada pemudik luar kota yang menyempatkan berhenti untuk menukarkan uang baru.

“Biasanya untuk persiapan memberi THR atau fitrah ke anak-anak. Makin dekat Lebaran, biasanya banyak yang nyari. Memang sudah nggak seramai dulu, tapi ya dikit-dikit dapat hasil dan yang penting bisa buat Lebaran lah,” tukasnya. Wardoyo