JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Kubu Jokowi Bakal  Membentuk Kabinet Rekonsiliasi

Tempo.co
Tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kubu pasangan calon 01 Jokowi-Ma’ruf Amin akan membentuk kabinet rekonsiliasi jika telah  ditetapkan sebagai pemenang pemilihan presiden 2019 oleh Mahkamah Konstitusi.

Hal itu dikatakan oleh Direktur Program Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Aria Bima.

“Menjadi kabinet rekonsiliatif itu perlu, karena kondisinya sekarang butuh kedamaian, keteduhan,” ujar Aria Bima saat ditemui di Posko Cemara, Jakarta pada Senin (11/6/2019).

Koalisi Jokowi saat ini, ujar Aria, tidak terbatas pada sembilan partai yang sudah bergabung saja.

“Untuk koalisi, terhadap siapapun masih terbuka. Entah itu PAN, Demokrat, atau Gerindra masih sangat mempunyai peluang yang sama untuk berkoalisi dengan koalisi Jokowi-Ma’ruf,” ujar Aria.

Baca Juga :  Tertinggi Jumlah Kasus Covid-19, 4 Provinsi Ini Jadi Fokus Perhatian Pemerintah

Kendati demikian, ujar dia, koalisi di pemerintahan yang akan datang tetap berharap adanya oposisi.

“Untuk demokrasi yang lebih baik, oposisi harus ada,” ujar politikus PDI Perjuangan ini.

Manuver-manuver politik pasca-penetepan hasil pemilu 2019 memang mulai kencang. Ketua Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sudah dua kali bertemu Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan juga tampak mesra dalam berbagai pertemuan.

Baca Juga :  Brasil Tolak Pakai Vaksin Buatan China, Satgas Penanganan Covid-19 Tegaskan Vaksin yang akan Digunakan di Indonesia Aman dan Sudah Lolos Uji Klinis

Namun begitu, Aria menilai terlalu jauh jika pertemuan-pertemuan itu langsung ditafsirkan kepada arah koalisi.

“Pertemuan-pertemuan itu masih sebatas silahturahmi politik. Jangan terus kemudian dikalkulasi secara politik seolah-olah akan terjadi koalisi. Ini yang saya keberatan,” ujar Aria.

Menurut Aria, kabinet rekonsiliasi perlu dibicarakan setelah pelantikan presiden terpilih pada 22 Oktober mendatang.

“Kalau saat ini masih jauh, kami masih harus melewati masalah sengketa pemilu,” ujar dia

www.tempo.co