loading...
Loading...
Ilustrasi pasien dan pengunjung menunggu di RSUD Sragen. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Pelayanan di RSUD Sragen kembali menuai kritikan. Sebagian pengunjung dan pasien mengeluhkan lambannya pelayanan dan keberadaan dokter yang tak stand by memberikan pelayanan sehingga membuat pengunjung terpaksa menunggu berjam-jam.

Keluhan itu mencuat dari sejumlah pasien di poliklinik RSUD Sragen, Selasa (11/6/2019).

Wanto, warga Sine, salah satu pasien di poliklinik THT mengatakan dirinya sudah antri mendaftar sejak pukul 07.45 WIB. Namun baru mendapat pelayanan sekitar pukul 12.30 WIB. Hal itu karena dokter spesialis di poliklinik THT hanya satu orang dan bolak-balik melayani pasien di meja operasi.

Akibatnya, pasien di poli yang sudah mengantri dan menunggu sejak pagi, terpaksa harus menahan kesabaran hampir lima jam.

“Hanya untuk periksa saja, kami nunggu hampir lima jam. Dokternya ada tapi cuma satu dan nggak fokus melayani pasien di poliklinik tapi malah bolak-balik melakukan operasi. Tadi saja dua kali masuk untuk operasi. Satu kali operasi kan satu sampai dua jam. Jadinya pasien yang di poli nggak tertangani,” paparnya.

Baca Juga :  Pencurian Listrik Marak, PLN dan Polres Sragen Operasi Besar-besaran di Sambirejo. Manajer PLN: Desa Dawung Sudah Lama Jadi TO Bertahun-Tahun! 

Senada, Joko, warga Karangmalang yang mengantar anaknya periksa, juga mengeluhkan lambannya pelayanan dan keberadaan dokter yang nyambi  operasi.

Hal itu dinilai sangat merugikan masyarakat dan pengunjung yang harus membuang waktu berjam-jam hanya untuk menunggu. Ia mengaku sudah antri sejak jam 08.00 WIB dan baru selesai ditangani pukul 12.30 WIB.

“Kalau yang hanya kontrol atau periksa sih nggak apa-apa nunggu. Lha yang sakit parah, misal disuruh nunggu berjam-jam kan kasihan. Karena ini berkaitan dengan layanan orang sakit yang semestinya butuh ditangani dengan cepat,” tukasnya.

Joko bahkan mengatakan keluhan dokter yang wira-wiri itu juga datang dari poliklinik lain. Termasuk di poli dokter umum yang hingga siang hari, belum juga datang.

“Mestinya di poli itu ada dokternya spesialis sendiri yang menangani pasien di poli. Jangan nyambi ngoperasi. Sehingga bisa fokus melayani di poli agar pasien nggak harus buang waktu berjam-jam,” tukasnya.

Baca Juga :  Ramai Polling Bursa Kandidat Yang Potensial Maju Pilkada Sragen 2020. Dari Tokoh Agama Hingga Bos Bukalapak, Siapa Paling Unggul? 

Wakil Ketua DPRD Sragen, Bambang Widjo Purwanto mengaku prihatin dengan munculnya keluhan itu. Menurutnya sebenarnya keluhan serupa juga sering bermunculan.

Karenanya ia berharap manajemen RSUD Sragen segera melakukan pembenahan termasuk soal ketersediaan tenaga medis dokter spesialis yang banyak dibutuhkan untuk pelayanan.

“Apalagi sekarang RSUD kan statusnya sudah BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) yang punya kewenangan mengatur rumah tangganya sendiri. Mestinya kekurangan dokter atau tenaga medis terutama yang banyak dibutuhkan  pelayanan, harus segera dipenuhi. Karena keluhan itu juga sudah lama dan belum ada perubahan. Artinya perencanan yang harus dibenahi, kebutuhan pegawai harus ditambah lagi. Buat apa slogan pelayanan setulus hati dipasang di semua sudut kalau faktanya pelayanan saja tiap hari masih dikeluhkan dan nunggu berjam-jam,” terangnya.

Baca Juga :  Jalur Ring Road Utara Sragen Ditutup Sebulan. Kendaraan Dialihkan Lewat Jalur Kota, Kasatlantas Imbau Pengendara Taati Rekayasa Lalin! 

Terpisah, Dirut RSUD Sragen, Didik Haryanto melalui Kabid Pelayanan Medis, Herawati mengatakan untuk poliklinik THT sebenarnya ada dua dokter yang menangani yakni dokter Leni dan Sunaryo.

Namun karena dokter kedua mendapat tugas tambahan sebagai Wakil Direktur, selama ini kebanyakan penanganan memang dilayani oleh dokter Leni.

Ia tak menampik jika sebagian poliklinik yang spesialisnya agak langka, seperti THT dan onkology, ketersediaan dokternya memang minim. Pihak manajemen juga sudah menyadari kondisi itu dan minggu depan, akan dilakukan pembahasan dengan bagian kepegawaian perihal peta kebutuhan tambahan tenaga medis di RSUD.

“Kita juga sudah diminta oleh BKPP (Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan) apa saja usulan kebutuhan tenaganya. Baru mau kita rapatkan dengan bagian kepegawaian. Memang selama ini ada beberapa bagian yang kekurangan tenaga. Kemarin ada tiga yang pindah (keluar), hanya dapat tambahan satu sehingga otomatis kurang,” tandasnya. Wardoyo

 

Iklan
Loading...