loading...
Loading...
Tribunnews

SLEMAN, Joglosemarnews.com – Sayuran dipercaya menjadi salah satu sumber gizi yang paling baik bagi manusia.

Dapat dikatakan, mengonsumsi banyak sayuran bisa membuat hidup menjadi lebih sehat. Akan tetapi, faktanya tidak semua orang suka mengonsumsi sayur.

Namun, faktor enggannya masyarakat mengonsumsi sayuran, menjadi celah bisnis bagi Sri Nurdiati, warga Dusun Malangan Krandon, Sumberagung, Moyudan, Sleman.

Ia berinisiatif untuk mengolah sayuran menjadi penganan lebih menarik. Berbagai jenis sayuran seperti wortel, pare, bayam, singkong, terung, kangkung, dan daun singkong ia olah menjadi keripik yang renyah.

Nurdiati menuturkan usaha yang ia kembangkan secara mandiri tersebut sejak 2015 silam.

Baca Juga :  Truk Pengangkut Kayu dan Mobil Land Cruiser Terperosok dan Jatuh di Galian Proyek Underpass Kentungan Sleman Yogyakarta

Titik awalnya adalah gerakan Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat yang menanam berbagai jenis sayuran.

“Bahan-bahannya awalnya saya dapat dari situ. Namun awal 2019 ini ada tambahan dana untuk jadi modal menanam sayur untuk sendiri,” jelas Nurdiati pada Minggu (23/6/2019).

Meskipun demikian, Nurdiati tidak lantas memulai usahanya begitu saja. Ia sempat menjalani pelatihan UMKM yang dilakukan oleh Dinas Koperasi Sleman.

Ia terutama mempelajari bagaimana cara pemasaran serta pengemasan yang menarik perhatian.

Sedangkan untuk proses pembuatannya, Nurdiati dibantu oleh 3 tenaga kerja yang merupakan warga sekitar.

Prosesnya pun tergolong mudah, karena tekniknya hanya menggoreng seperti biasa.
Untuk menjamin makanan buatannya tetap berkualitas dan menyehatkan.

Baca Juga :  Diciduk Polisi, Mantan Sekcam Tipu Ratusan Juta untuk Jadi PNS

Minyak yang digunakan untuk menggoreng selalu baru. Proses penggorengan pun dilakukan sebanyak 2 kali.

Begitu juga dengan minyak yang digunakan adalah jenis yang berkualitas.

“Saya juga tidak menggunakan bumbu penyedap seperti MSG, pengawet, bahkan pewarna. Semuanya alami,” jelas ibu anak satu ini.

Sayuran yang identik dengan rasa pahit itu justru terasa gurih saat menyentuh lidah.
Tentunya rasa tersebut diikuti dengan sensasi kriuk yang renyah.

Nurdiati mengatakan ia menggunakan teknik tertentu agar pare tidak terasa pahit saat dimakan.

Hal serupa juga ia lakukan pada sayuran lainnya. Ia mendistribusikan makanan buatannya tersebut hingga ke swalayan dan toko oleh-oleh.

Baca Juga :  Suka Iseng Pegangi Payudara Turis Asing, Oknum Guru Ini Diciduk Polisi

Produknya juga sudah menembus Sumatera, hingga Sulawesi. Nurdiati mengoptimalkan penjualan produk secara online, sehingga jangkauannya menjadi luas.

“Beberapa waktu lalu produk saya ini juga sempat dipromosikan di Batam,” ungkapnya.

Nurdiati mengatakan usaha yang dijalaninya ini sangat berdampak positif pada ekonomi keluarganya.

Bahkan omzet per bulannya bisa mencapai Rp 10 juta. Tiap kemasannya ia jual dengan harga Rp10 ribu hingga Rp 17 ribu.

Produksi per bulannya pun mencapai 300 kilogram.

“Satu hari saya mampu memproduksi 20 kg, itu setara 17 bungkus,” kata Nurdiati.

www.tribunnews.com

Iklan
Loading...