loading...
Sejumlah gerobak sapi berjajar rapi usai mengikuti pawai Festival Gerobak Sapi 2019, di Candi Banyunibo, Prambanan,Minggu (29/09/2009).
JS/ Kiki DS

Sedari Minggu (29/09/2019) pagi kompleks pelataran Candi Banyunibo Prambanan, tumpah ruah oleh  gerobak sapi. Di beberapa sudut  tampak aneka gerobak dihias cantik penuh warna, sementara di sudut lainnya  ratusan gerobak sapi dengan para bajingan leyeh-leyeh setelah menempuh perjalanan panjang .

Ya, sebelumnya gerobak sapi dan “pengemudinya” itu melakukan pawai dari lokasi asal mereka masing-masing untuk mengikuti Festival Gerobak sapi 2019 di situ. Seperti sepasang suami istri  warga Manisrenggo,Prambanan ini. Wartoyo (67) dan sang istri Sarni (55), keduanya berangkat dari rumah Minggu pagi sekitar pukul 06.00WiB menuju candi Banyunibo. Hanya berdua menaiki gerobak sapi , mereka tiba pukul 08.00WIB.Tak tampak lelah meski perjalanan cukup jauh dan pastinya pelan-pelan  sudah mereka lalui bersama kedua sapinya.

“Setiap tahun, saya ikut Festival Gerobak Sapi ini. Senang karena buat melestarikan gerobak sapi yang hampir punah,  juga bisa srawung dengan para bajingan yang lain dari berbagai Paguyuban, “terang Wartoyo kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (29/09/2019).

Salah satu peserta Festival Gerobak sapi 2019.
JS/Kiki DS

Bersama istrinya, imbuh Wartoyo, mereka membawa bekal ala kadarnya serta makanan untuk kedua binatang penarik gerobak mereka. Ada dedak, tanaman, telo serta air yang siap diberikan sewaktu-waktu untuk sapinya.

Baca Juga :  Bayi 4 Bulan di Kulon Progo Positif Corona, Miliki Riwayat Perjalanan ke Solo

“Keseharian saya itu tani, gerobak sapinya hanya dipakai untuk mengangkut pari (padi-red) kalau pas panen, atau mbako (tembakau-red). Sesekali sayuran kalau ada”, “imbuh sang istri.

Adanya Festival Gerobak Sapi tahunan ini, kata Wartoyo yang tergabung dalam Payuguban Gerobak Sapi Langgeng Sehati, menjadi sarana untuk turut memberdayakan gerobak sapinya lebih maksimal, sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat luas, bahwa gerobak sapi yang nyaris hilang tersebut masih ada. Pun para pengemudi gerobak sapi yang biasa disebut bajingan pasti kompak ketika mengikuti festival unik penuh tradisi tersebut. Mereka rela meninggalkan sesaat pekerjaan harian mereka lainnya sebagai petani. Lebur bersama dalam paguyuban gerobak sapi yang beragam dalam event itu.

Festival Gerobak Sapi (FGS) 2019 yang ke-7 ini, ditambahkan Ketua Panitia, Nuryanto ada sedikit pembaharuan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Nah, tahun ini, pengunjung atau penonton yang datang kemari boleh naik gerobak secara gratis, harapannya mereka akan dapat merasakan kenyamanan naik gerobak di Yogyakarta, karena gerobak saat ini menjadi alternatif wisata di sini,”jelasnya.

Pada setiap tahunnya, ada 135 gerobak sapi yang berpartisipasi dalam Festival Gerobak Sapi tersebut, namun jumlah ini semakin bertambah, mengingat antusiasme dari para pemilik gerobak sapi.

Baca Juga :  Tak Bisa Tolak Pemudik, Sultan Imbau Lakukan Isolasi Mandiri 14 Hari

“Biasanya yang ikut ada 135 gerobak dari 6 Paguyuban gerobak sapi di DIY, , tapi kali ini bertambah,lebih bahkan karena yang dekat-dekat ternyata ikut serta,”tegasnya.

Pengunjung asyik berfoto di atas Gerobak Sapi hias usai perlombaan.
JS/Kiki DS

Tak hanya pawai gerobak sapi, dalam event tersebut juga diadakan lomba balapan gerobak sapi, custom gerobak sapi (gerobak sapi hias) dan lomba foto.

“Gerobak sapi dulu kan hampir punah. Maka kita sebagai generasi muda, harus melestarikan. Sehingga gerobak sapi sebagai budaya tidak akan hilang. Gerobak sapi yang dulunya sebagai alat transportasi, karena kemajuan teknologi sekarang, terjadi klangenan,maka diadakan festival ini, agar  gerobak sapi dapat menjadi alternatif wisata di Yogyakarta,”pungkasnya. #Kiki DS