JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Curhat Pilu Siswi Korban Intimidasi Rohis Gegara Tak Berjilbab di SMAN 1 Gemolong Sragen Saat Kembali Masuk Sekolah. Aktivis Perempuan Sampai Mengecam!

Sejumlah aktivis dari berbagai komunitas saat menyampaikan keprihatinan mereka terhadap kasus intimidasi jilbab di SMAN 1 Gemolong, Sabtu (11/1/2020). Foto/Wardoyo
Sejumlah aktivis dari berbagai komunitas saat menyampaikan keprihatinan mereka terhadap kasus intimidasi jilbab di SMAN 1 Gemolong, Sabtu (11/1/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kisah miris yang dialami Z, siswi kelas X di SMAN 1 Gemolong Sragen yang diteror gara-gara tak pakai jilbab, ternyata masih berlanjut.

Z, siswi yang dikenal aktif di olahraga basket itu, mencurahkan isi hatinya perihal perlakuan tak mengenakkan yang ia terima saat ia kembali masuk sekolah pasca kasusnya mencuat.

Curhat itu disampaikannya kepada salah satu aktivis perempuan asal Sragen, Ellisa Widyaningrum, Sabtu (11/1/2020). Ellisa tadi siang mendatangi kediaman Z di Desa Doyong, Miri, Sragen untuk mencari tahu duduk persoalan dan kasus yang menimpa siswi tersebut.

Ellisa adalah salah satu pengurus Komunitas Perempuan Sragen. Aktivis muda itu mengaku sempat berbincang banyak hal dengan Z terkait apa yang telah dialami di sekolah.

“Tadi, dia bilang sehari setelah kasus itu mencuat (Selasa, 7/1/2020), dia sempat masuk ke sekolah. Tapi ternyata bukan membaik, tapi malah dia merasa ada perlakuan aneh terhadapnya. Akhirnya dia nggak mau masuk lagi sejak Rabu, Kamis, Jumat karena teman-temannya bersikap aneh,” ujar Ellisa kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (11/1/2020).

Baca Juga :  Keren, Sragen Borong 5 Penghargaan Top BUMD Award 2020 di Jakarta.  Bupati Pesan BPR BKK Karangmalang dan BPRS Sukowati Lebih Intens Bantu Permodalan UMKM

Ellisa menguraikan saat masuk kembali, Z merasakan teman-temannya memandanginya sinis dan ke mana pun selalu diamati. Menurut Z, pandangan teman-temannya seolah mengucilkannya.

Kemudian salah satu oknum guru agama di sekolah, juga terkesan acuh saat disapa.

“Jadi akhirnya dia merasa nggak nyaman. Mau ke kantin, teman-teman melihatinya terus. Lalu gurunya disapa juga acuh. Akhirnya dia nggak mau sekolah sejak Rabu sampai Jumat,” terang Ellisa.

Saat ditanya keinginannya bersekolah, Z kepada Ellisa mengaku sebenarnya sudah ingin kembali masuk. Akan tetapi situasi dan perlakuan siswa maupun guru yang dianggap belum bisa memberikan kenyamanan, masih menjadi pertimbangan.

“Tadi waktu saya tanya, dia belum tahu. Harapannya semoga Senin besok sudah bisa masuk,” tuturnya.

Atas hal itu, Ellisa mengaku mengecam keras perlakuan siswa dan oknum guru di sekolah. Pasalnya perlakuan mereka justru kembali memberikan tekanan psikis kepada korban.

Ellisa yang juga muslim dan berhijab, sangat menyesalkan insiden intimidasi yang terjadi di SMAN 1 Gemolong. Bahkan ia menduga kasus serupa sudah lama terjadi di sekolah itu, namun banyak yang tak punya keberanian untuk berbicara.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Kecamatan Sidoharjo Terus Meningkat, Kapolsek Gerakkan Program Sidoharjo Bermasker. Izin Hajatan dan Keramaian Sementara Stop Dulu!

“Tadi, dia (Z) juga sempat bilang, dia hanya ingin kembali masuk sekolah dengan nyaman tanpa ada intimidasi lagi. Dan suatu saat juga ingin berhijab tapi atas kesiapan dia sendiri. Bukan karena dipaksa. Ada kakak kelasnya yang juga dipaksa tapi tidak berani bilang. Berarti kami menyimpulkan kalau sebenarnya intimidasi itu sudah berlangsung lama,” terangnya.

Sementara, Kepala SMAN 1 Gemolong, Suparno saat dikonfirmasi seusai dipanggil KCD Jumat (10/1/2020), membenarkan pertemuan dengan KCD membahas kasus intimidasi dan pembinaannya. Ia menyebut bahwa sekolah sudah menjamin siswi Z untuk bisa masuk kembali dengan nyaman.

Saat ditanya apakah siswi yang bersangkutan sudah masuk sekolah kembali, Suparno mengaku tidak memperhatikan dan belum menerima laporan.

“Kelihatannya sudah masuk, hari Selasa itu masuk tapi kemudian izin. Ini saya masih perjalanan Mas,” katanya dihubungi Jumat sore. Wardoyo