JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Membantu Korban Bencana Dengan Tetap Memberdayakan

Agustinus Kris Widianto tengah bicara di hadapan para relawan / suhamdani

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Bencana, baik bencana alam maupun bencana rumah tangga, sama-sama dapat meninggalkan trauma mendalam pada diri anak.

Jika hal itu tidak diperhatikan dan anak tidak ditangani dengan serius, hal itu bisa memunculkan tauma ketika anak telah menjadi dewasa.

“Karena itu, problem anak adalah problem kita semua,” ujar Direktur Solo Mengajar, Didik Kartika saat membuka acara Sharing Bareng Bersama Agustinus Kris Widianto di Rumah Belajar Banyuagung (RBM), Selasa (28/1/2020) sore.

Acara tersebut khusus mendatangkan teman sharing tunggal, seorang psikolog sekligus Founder Yayasan Pangon Utomo: Neurodevelopmental Pediatric Ducare, Solo.

Di hadapan para relawan Solo Mengajar serta perwakilan guru baik negeri maupun swasta , Kris, sapaan akrab Agustinus Kris Widianto, lebih banyak sharing pengalaman dalam melayani anak-anak korban bencana.

Dalam salah satu sharingnya, Kris mengatakan bahwa menghadapi anak-anak korban bencana, sebanarnya tidak dibutuhkan metode yang rumit.

Yang perlu dilakukan oleh para relawan hanyalah duduk dan mendengarkan, tanpa banyak bertanya.

“Jangan sampai terjadi di depan para korban bencana, kita melakukan analisis atau diagnosa. Bukan. Mereka hanya butuh bercerita, dan kita harus siap mendengarkan,” ujar Agustinus.

Mendengarkan cerita dari para korban bencana, menurut pria yang pernah menjadi relawan di Lombok dan beberapa kota lainnya itu, berarti sudah meringankan sebagian beban psikologi yang mereka alami.

Menjadi relawan, jelas Agus, bukan berarti bebas melakukan eksplorasi terhadap para korban. Relawan juga dinilai kurang pada tempatnya jika terlalu kepo dan banyak bertanya mengenai kejadian yang dialami korban.

Khusus menghadapi anak-anak, Kris menyarankan untuk menggunakan permainan. Terlalu lama kotbah atau bercerita, justru akan membuat anak-anak bosan.

“Secara teori, anak-anak hanya bisa fokus mendengarkan sama 10 sampai 15 menit. Sebaiknya gunakan permainan. Karena itu, kawan-kawan perlu banyak stok permainan dan lagu-lagu untuk mereka,” ujarnya.

Kris menambahkan, dalam keadaan bencana, kesedihan orang tua bak virus yang bisa menular kepada anak-anak. Untuk itu, selama melakukan pendampingan, relawan perlu menjauhkan anak-anak dari orang tua.
Sementara itu, dalam sesi tanya jawab, salah satu relawan menyakan cara membuang energi negatif dari para korban tersebut agar tidak membebani iri sendiri.

Terhadap pertanyaan itu, Kris mengatakan selama menjalankan tugasnya, relawan disarankan untuk tidak larut dalam penderitaan korban.

“Jangan lupa lakukan refreshing, cari pemandangan baru yang menyegarkan. Itu salah satu cara untuk membuang energi negatif yang membebani relawan,” ujarnya.

Membantu korban bencana, ujar Kris, bukan berarti relawan harus memanjakan para korban. Namun yang dilakukan adalah membantu dengan tetap memberdayakan atau memandirikan korban.

“Bukan sebaliknya, malah memanjakan. Misalnya, saat memberikan susu, relawan tak perlu menanyakan susu merek apa yang biasa digunakan. Itu hanya akan memanjakan. Kita membantu, namun juga harus mengedukasi mereka untuk bersikap riil,” bebernya. suhamdani


Baca Juga :  Bajo Sah Jadi Lawan Gibran-Teguh Dalam Pilwakot Solo 2020