JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Dislapernak Wonogiri Yakini Daging Glonggongan Tidak Dijual Bebas. Begini Modus Penjualan Daging Bercampur Air Itu

surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dislapernak) Wonogiri meyakini daging sapi glonggongan tidak dijual di pasar bebas.

Dinas mengklaim distribusi dilakukan oleh oknum pedagang. Modusnya menjual berdasarkan pesanan, misalnya ketika ada acara hajatan.

“Peredaran daging sapi glonggongan di Wonogiri itu masuk penjualan tertutup. Modusnya hanya dilakukan pedagang daging ketika memenuhi kebutuhan pesanan, contohnya saat ada acara hajatan. Yang nakal kadang dagingnya dioplos, separuh daging yang bagus separuhnya lagi daging glonggongan,” ungkap Kepala Dislapernak Wonogiri Sutardi, Selasa (11/2/2020).

Baca Juga :  Segini Jumlah Penerima BSP di 5 Desa di Kecamatan Karangtengah Wonogiri

Disinggung soal kemungkinan daging sapi glonggongan dijual langsung ke pasar, dia menampiknya. Petugasnya rutin menggelar pemeriksaan kelayakan daging.

Sutardi meminta masyarakat tidak perlu resah dengan berita penggagalan upaya pengiriman daging glonggongan di Wonogiri. Terlebih untuk membedakan daging kualitas bagus dengan daging glonggongan dapat dilakukan secara mudah.

Baca Juga :  Ini Lho Jumlah Penerima KIS Tiap Desa di Kecamatan Manyaran Wonogiri, Dibagikan Serentak Hari Ini

Daging glonggongan warnanya pucat, dagingnya lembek, permukaan dagingnya basah, dan biasanya penjual tidak menggantung daging tersebu. Selain itu,harga daging glonggongan jauh lebih murah dibandingkan harga daging segar.

“Harga daging kualitas bagus di pasaran standarnya dijual dengan harga Rp 110 perkilo. Sedang daging glonggongan hanya Rp 90 ribu,” sebut dia. Aria