JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Pilu Ibu Miskin Pemilik Rekening Asal Tanon Sragen Langsung Syok dan Meninggal, Pelaku Pembobolnya Malah Gunakan Uang Untuk Foya-Foya. Padahal Tinggalnya Hanya Bersebelahan

Korban pembobolan rekening asal Dukuh Karangkulon, Kecik, Tanon, Sragen, Septi (kiri) bersama bapak dan kakaknya, seusai persidangan. Foto/Wardoyo
Korban pembobolan rekening asal Dukuh Karangkulon, Kecik, Tanon, Sragen, Septi (kiri) bersama bapak dan kakaknya, seusai persidangan. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus pembobolan rekening tabungan BRI milik keluarga miskin asal Dukuh Karangkulon RT 22, Kecik, Tanon, Sragen bernama Septi Setianingsih (22) pada September 2019 silam, menyisakan cerita menyayat hati.

Betapa tidak, saat ibu korban, Sumiyati (42) syok dan kemudian meninggal setelah mendengar tabungannya hilang, pelakunya justru berfoya-foya menghamburkan uang hasil pembobolan.

Dan pelakunya ternyata adalah tetangga sebelah rumah korban bernama Ade Purba Pratama (25). Yang menyakitkan lagi, pelaku adalah teman sebaya dan teman kerja kakak korban, Supriyanto (25) yang sehari-hari sering bermain ke rumah korban.

Berdasarkan berkas dakwaan penuntut umum, terdakwa Ade Purba Pratama awalnya mencuri ATM milik Septi, pada 7 Juli 2019. Saat itu, kondisi rumah sedang sepi,hanya ada ibu korban Sumiati yang dalam kondisi terbaring di dera penyakit stroke.

Setelah mencuri ATM korban dan menjebak PIN lewat akun FB palsu, ia kemudian membobol rekening ewat ATM selama 3 hari. Yakni pada tanggal 28, 29 dan 30 Agustus 2019.

Terdakwa kemudian melakukan penarikan dengan ATM sebanyak 11 kali penarikan dan satu kali transfer ke nomor rekening pamannya, atas nama Jumangin yang sudah lebih dulu dicuri.

“Penarikannya pada tanggal 28 Agustus melakukan penarikan di ATM Rest Area Tol Sragen-Ngawi. Kemudian tanggal 29 Agustus di ATM BRI Gabugan sebanyak 4 kali masing-masing Rp 2,5 juta. Lalu tanggal 30 Agustus sebanyak Rp 1,250 juta di ATM wilayah Madiun. Kemudian transfer ke rekening Jumangin sebesar Rp 20 juta lewat mesin ATM di Madiun,” papar jaksa penuntut dari Kejari Sragen, Susilowati kepada JOGLOSEMARNEWS.COM seusai sidang Selasa (28/1/2020).

Baca Juga :  Sah, Pasangan Yuni-Suroto Akan Ada di Kotak Kanan Surat Suara pada Pilkada Sragen 2020. Ketua KPU Yakinkan Tak Ada Pesanan!

Tak lama setelah rekeningnya dibobol, Sumiyati yang mendengar tabungannya hilang, langsung syok berat dan drop. Sempat dilarikan ke RSUD Sragen, ibu dua anak itu akhirnya meninggal dunia.

Saat almarhumah meninggal, belum ada yang tahu jika pelakunya adalah terdakwa yang tinggal bersebelahan rumah.

Dari keterangan terdakwa, seusai membobol Rp 41,150 juta, ia kemudian langsung menghamburkan uang hasil pembobolan. Tanpa peduli korban yang sampai meninggal, uang Rp 41 juta itu ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan foya-foya.

Di antaranya, membeli 2 HP Vivo seharga Rp 2 juta, satu HP Samsung seharga Rp 2,350 juta, dua velg mobil seharga Rp 8 juta, satu set audio sound mobil seharga Rp 3 juta.

Lantas empat speaker merek DMC seharga Rp 4,3 juta, permak mobil seharga Rp 4,8 juta, membeli pengapian mesin mobil Rp 2,2 juta, membeli gearbox mobil Rp 6 juta dan sisanya digunakan untuk foya-foya karaoke serta bersenang-senang lainnya.

Baca Juga :  Kecelakaan Terbaru Sragen, Kesenggol Grandmax, Pengendara Motor Scoopy Asal Karangmalang Luka Parah dan Patah Bahu

Kasus ini banyak mengundang empati lantaran korban adalah keluarga miskin dan relatif lugu.

Uang milik Septi yang dibobol terdakwa itu merupakan uang milik ibunya, Sumiyati (42) hasil dari penjualan tanah warisan yang rencananya akan dibelikan tegalan untuk bertani suaminya.

Keluarga korban tercatat sebagai keluarga miskin dengan pekerjaan hanya buruh serabutan.

Karena orangtuanya awam, maka rekening dibuka atas nama putri keduanya, Septi. Bahkan, kasus ini juga merenggut nyawa Sumiyati, yang syok setelah mendengar bahwa uang tabungannya dari hasil warisan, hilang Rp 41 juta.

Sumiyati yang sudah menderita stroke,  langsung drop dan sempat dibawa ke RSUD Sragen sebelum kemudian meninggal pada 8 September 2019.

“Saya benar-benar nggak nyangka setega itu. Padahal dia itu sering main ke rumah saya dan sudah seperti rumah sendiri. Harapan kami uang bisa dikembalikan, karena ibu kami sampai meninggal gara-gara dengar uangnya hilang,” tutur Supriyanto, kakak Septi.

Jaksa penuntut, Susilowati menambahkan terdakwa dijerat dengan pasal 362 jo pasal 64 ayat 1 KUHP. Sidang bakal digelar kembali sepekan ke depan dengan agenda tuntutan. Tim JSnews