loading...

MAGELANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Bencana alam banjir bandang dan tanah longsor menerjang Dusun Semen dan Dusun Mudan, Desa Salamkanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Sabtu (29/2/2010).

Akibat terjangan bencana tersebut 12 rumah terdampak banjir, 7 rumah terancam dan 1 rumah roboh.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edy Susanto, mengatakan, awal mula kejadian, hujan turun dengan deras selama tiga hari berturut-turut di wilayah tersebut.

Hingga terjadi titik longsor di Dusun Mudan, menyebabkan aliran air tertahan. Air menjadi volume sangat besar sehingga lepas atau jebol, bergerak liar terjadilah banjir bandang yang mengarah ke permukiman warga.

“Tiga hari berturut-turut terjadi hujan besar, kemudian puncaknya Sabtu (29/2/2020), hujan sejak pukul 10.00 WIB dengan intensitas besar, sehingga terjadi titik longsor, debit tambah besar. Air yang tertahan longsor volume sangat besar, sehingga lepas atau jebol, bergerak liar sehingga terjadilah banjir bandang,” kata Edy, Minggu (1/3/2020).

Baca Juga :  Hadapi New Normal, Pemda DIY Susun Standar Pembelajaran Tatap Muka Langsung di Sekolah

Dampaknya, 64 KK yang mengungsi ke TPA Derepan. Sebagian besar telah kembali ke rumah masing-masing. Pagi tadi, ada lima warga (lansia) yang bertahan di pengungsian.

Dua rumah warga roboh, sejumlah rumah mengalami kerusakan, rumah kotor karena kemasukan lumpur, menyebabkan aktivitas masyarakat terhambat. Tidak ada korban jiwa atau luka dalam kejadian ini

“Banjir ini menjadikan 64 KK yang mengungsi. Dampak kerusakan, ada dua rumah yang roboh, sejumlah rumah yang rusak, rumah yang kotor kemasukan lumpur, menggangu aktivitas masyarakat. Semua sudah kembali untuk pembersihan rumah. Pengungisinya nihil, tetapi tinggal beberapa lansia,” tutur Edy.

Sebanyak 170 petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD, relawan, komunitas kebencanaan dan masyarakat diterjunkan untuk menangani bencana banjir bandang di Dusun Semen dan Mudan, Desa Salamkanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Minggu (1/3/2020). Petugas terus bertambah hingga siang ini, sampai ada 530 personel yang terus bergabung.

Baca Juga :  Guru Besar Hukum UII Yogyakarta Diteror. Gara-gara Akan Isi Diskusi Hukum Tata Negara Soal Pemberhentian Presiden

Petugas melakukan upaya penanganan kedaruratan, utamanya untuk membuka aliran air agar berjalan dengan lancar.

Pasalnya, penyebab banjir ini karena air tertahan dan bergerak liar. Target hari ini, penanganan dapat selesai, tetapi melihat kondisi yang terjadi di lapangan.

“Hari ini melalukan upaya penanganan kedaruratan, utamanya membuka agar air berjalan lancar, karena penyebabnya air tertahan dan bergerak liar. Targetnya membuka saluran air supaya tak ada hambatan.

Agak sulit tantangannya berat, karena banjir bandang kemarin membawa material dari hutan, yang turun menyumbat saluran air itu. Sampai sekarang masih belum optimal. Targetnya hari ini selesai,” ujarnya.

Selain rumah yang rusak, ada tiga kendaraan warga yang dilaporkan hilang tertimbun material lumpur. Ada juga alat produksi gethuk yang hilang dan rusak. “Kami masih fokus membuka jalan air, agar aliran air dapat lancar dan tak menyebabkan banjir,” kata Edy.

www.tribunnews.com