JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Balita Miskin di Sukodono Sragen Terancam Diamputasi Gara-gara Gigitan Kutu Kucing Memantik Empati Berbagai Kalangan

Kondisi balita Samara Khumaira Mariba. Foto/Wardoyo

IMG20200306134234 816x612 1
Kondisi balita Samara Khumaira Mariba. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM
Kondisi balita malang bernama Samara Khumaira Mariba (11 bulan) yang mengalami pembengkakan pada jari diduga terinfeksi kutu kucing, hingga kini masih memprihatinkan.

Balita perempuan yang berasal dari Dukuh Dayu, RT 17/05, Desa Jatitengah, Sokodono, Sragen ini, dari hari ke hari jari manis tangannya semakin membesar.

Penderitaan putri kedua pasangan Wanto (30)- Etik (29) itu juga mulai memantik empati dari berbagai pihak.

Salah satunya, dari yayasan Solopeduli yang tergerak menyambangi rumah kecil Wanto dua hari lalu. Selain itu, pihak Baznas, UPTPK dan beberapa donatur juga sudah mulai menyalurkan bantuannya.

Setiba di rumah Wanto, tim sempat mengorek awal insiden gigitan kutu kucing yang membuat balita malang itu harus menyandang sakit.

Awalnya Samara sedang ditidurkan di rumahnya saat Ibunya, Etik (29) sedang memasak, mendadak Samara menanggis, ternyata kutu kucing mengigit jarinya.

Bekas gigitannya lalu diolesi minyak telon, tetapi bentolnya semakin besar.  Karena semakin membesar Samara dibawa ke Puskesmas Sukodono dan diberi salep, tetapi bentolannya tidak juga kempis, maka ia dibawa ke RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen.

Baca Juga :  4 Warga Sragen Digigit Ular Berbisa, Waspada Ini Tempat-Tempat di Rumah Yang Biasa Jadi Persembunyian Ular Berbisa!

Di RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen tidak ada perkembangan positif maka ia dibawa ke  RSUD dr. Moewardi Solo.

Terakhir periksa pada 3 Maret 2020 lalu, Samara disarankan untuk diamputasi telapak tangannya agar infeksi tidak semakin bertambah.

IMG 20200313 WA0015
Yayasan Solopeduli saat menyerahkan bantuan ke orangtua balita Samara Khumaira, kemarin. Foto/Wardoyo

Tiap pekan ia diminta kontrol kesehatan, tetapi kondisi ekonomi keluarga menjadi kendala untuk berobat karena sejumlah obat tidak bisa dikover oleh biaya BPJS Kesehatan.

Samara adalah anak tukang buruh bangunan yang bekerja secara serabutan, Wanto.

Saat ada proyek bangunan ia digaji sekitar 50 ribu per harinya, sementara Ibunya, Ibu Etik (29) tidak bekerja.

Samara adalah anak kedua, kakaknya sudah duduk di SD. Samara tinggal di rumah yang sangat kecil, rumah yang terbuat dari kayu dan bambu serta lantai tanah itu berukuranya sekitar 6 x 5 meter.

“Tiga hari yang lalu kami datang kesini untuk mengecek kondisi Samara dan kondisi ekonomi keluarganya. Kondisinya rumah dan ekonominya sangat memprihatinkan, lebih-lebih anaknya sakit dan harus berobat,” papar Muhamad Purnomo selaku pimpinan cabang Solopeduli Sragen, Sabtu (14/3/2020).

Baca Juga :  Innalillahi, Buruh Pabrik Boneka Tewas Mengenaskan Usai Terlindas Truk Gandeng di Masaran Sragen. Tubuhnya Dievakuasi di Bawah Roda Truk 

Ia mengatakan saat ditanyakan, ternyata mereka sudah menghabiskan uang sebanyak Rp 11 juta untuk biaya pengobatan anaknya. Uang itupun diperoleh dengan meminjam uang dari tetangganya.

“Maka kami datang untuk memberikan santunan kesehatan dan bantuan sembako, semoga bisa sedikit meringankan kebutuhan mereka,” tuturnya.

Ia berharap Samara segera sembuh sehingga ceria seperti balita lainnya dan orangtuanya bisa fokus bekerja tidak kewatir lagi.

Solopeduli akan berupaya mencari dana agar bisa kembali memberikan santunan untuk Samara.

”Terimakasih banyak Solopeduli sudah peduli dan membantu pengobatan anak saya. Dana ini sangat kami butuhkan, dan terimakasih juga untuk tawaran layanan ambulan untuk mengantarkan anak saya berobat dan kontrol. Saat saya butuh mobil untuk pengobatan anak saya tidak perlu pusing dan kebingunggan lagi. Sekali lagi terimakasih banyak Solopeduli,” ungkap Wanto. Wardoyo