JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Kisah Perjuangan Kanzan, Ustad Muda Asal Wonogiri Lakukan Syiar di Ujung Nusakambangan, Jarak dan Susahnya Medan Tak Jadi Halangan

Sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh juru dakwah bersama anak-anak di Desa Klaces, kecamatan Kampung Laut di kepulauan kecil ujung barat Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, beberapa waktu lalu. Tribunjateng/Istimewa

CILACAP, JOGLOSEMARNEWS.COM – Perjuangan ustad muda asal kabupaten Wonogiri Kanzan (25) dalam mengajarkan ilmu agama di sebuah pulau kecil di ujung barat Nusakambangan, Cilacap patut diacungi jempol.

Ustad muda tersebut mentransfer ilmu agamanya pada anak-anak di Desa Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Nusakambangan, Cilacap. Jarak dan beratnya medan tak jadi halangan bagi Kanzan, ia sudah dua tahun lebih Kanzan untul melakukan syiar agama di desa terpencil yang terletak di segara anakan itu.

Tak jarang Kanzan harus menempuh jarak puluhan kilometer jika ingin berkunjung ke pusat kota Cilacap untuk membeli beberapa kebutuhan kesehariannya. Pasalnya jika ingin ke Desa Klaces atau ke pusat kota Cilacap, ia harus menaiki perahu dari Pelabuhan Sleko Cilacap dengan waktu tempu 2 jam lebih.

Perahu tersebut harus mengelilingi pulau Nusakambangan yang memiliki panjang sekitar 70 kilometer untuk sampai di Desa Klaces. Meski demikian Kanzan tetap semangat membagi ilmunya, dan berdakwah tanpa memikirkan jauhnya jarak dan beratnya medan menuju Desa Klaces.

Baca Juga :  Peserta Tes CPNS Salatiga Wajib Hindari Calo

“Bagi saya hal itu menjadi cerita perjalanan untuk melakukan dakwah.”

“Dengan memberikan ilmu di pedalaman, saya bisa melatih kesabaran dengan tujuan menyampaikan kebaikan,” ucap Kanzan menanggapi tantangan untuk bisa menyampaikan ilmunya, Jumat (1/5/2020).

Dilanjutkan Kanzan, ia sampai di Desa Klaces karena diminta satu di antara pemuka agama asal Purwokerto untuk melakukan syiar agama.

“Awalnya saya diminta Gus Solikin dari Purwokerto untuk memberikan ilmu ke anak-anak di Nusakambangan, selain itu beliau ingin mendirikan Pesantren Maritim sini,” jelasnya.

Kanzan menceritakan, awal kedatangan di pulau Nusakambangan bersama dua rekannya asal Solo, dan kini tinggal satu rekannya yang masih melakukan syiar bersamanya di Nusakambangan.

“Awal datang saya ditemani dua rekan, dan datang pertama bukan di Klaces, namun di sisi lain pulau ini.”

“Karena tempat awal kesulitan air, pihak Kecamatan Kampung Laut memberi saran pindah ke di Desa Klaces,” ucapnya.

Baca Juga :  Kebijakan Sanksi Denda untuk Pelanggar Protokol Kesehatan Berhasil Ubah Status Zona di Kudus

Pemuda 25 tahun itu menceritakan pernah hampir ditolak saat masuk ke Desa Klaces dua tahun silam, hal itu karena saat itu tengah ramai kasus teroris di Solo Raya.

“Kami pernah dicurigai karena awal masuk ke sini masih ramai kasus teroris dari Solo, kami juga diminta untuk membuat surat resmi dari kelurahan, kecamtan, bahkan ke Kepolisian, dan kami turuti permintaan warga.”

“Hingga kini kami diterima untuk memberi ilmu agama ke anak-anak, bahkan masyarakat di sini sudah seperti keluarga kami,” terangnya.

Karena kedekatan dan ikhlas dalam memberikan ilmu, dijelaskan Kanzan, masyarakat tidak mengijinkannya pindah ke daerah lain.

“Beberapa waktu lalu saya hendak pindah dari sini, karena dari awal saya diminta melakukan syiar selama dua tahun, namun saat mau meninggalkan pulau masyarakat tidak mau melepas kami, dan mengingkan kami tetap di sini,” tuturnya.

www.tribunnews.com