JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Menjadi Terduga Teroris, Remaja Jebolan 4 SD Ini Diciduk Densus 88

ilustrasi
ilustrasi

BATAM, JOGLOSEMARNEWS.COM
Setelah sepekan menghilang, remaja jebolan Sekolah Dasar (SD) di Batam berinisial F ini tahu-tahu sudah diringkus oleh petugas Densus 88 lantaran diduga teroris.

Penangkapan itu berlangsung di Sagulung, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (20/5/2020).

Hal itu dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Harry
Goldenhardt.

“Iya benar, Densus 88 ada melakukan penangkapan. Mereka mengamankan pelaku diduga jaringan terorisme,” ujar Kombes Harry Goldenhardt, Minggu (24/5/2020).

Namun, Harry belum bisa merinci terkait penangkapan tersebut.

“Untuk data rincinya, kita belum tahu ya. Karena itu kinerja dari Densus 88. Jadi sifatnya kami hanya sebatas membenarkan adanya aktivitas Densus terkait penangkapan,” jelas Harry.

Remaja berusia 16 tahun tersebut diduga terlibat jaringan terorisme Jamaah
Ansharut Daulah (JAD) Tasikmalaya.

Ketua RT 03, Adet pun membenarkan afanya penggerebekan tersebut. Menurutnya dua hari terakhir rumah yang dihuni warganya itu sering didatangi petugas. Namun, ia enggan berkomentar banyak.

Hal yang sama dikatakan tetangga F yang enggan disebutkan namanya.

“Saya pun kaget juga, dari kemarin malam rumahnya sering didatangi petugas, bahkan sampai tengah malam. Waktu itu sampai jam 02:00 WIB dini hari,” ujarnya.

Tidak hanya kemarin, pasca malam itu rumah yang dihuni tetangganya itu juga sering didatangi orang.

“Saya pun enggak tau, iya cuek saja lah. Namun rasa penasaran ada sih, tapi mau gimana belum kenal juga mau nanya,” kata dia.

Dikatakannya, F baru dua bulan tinggal di wilayahnya, sehingga warga setempat belum terlalu kenal.

Baca Juga :  Giliran FPI, Alumni 212, dan Rizieq Shihab Desak Pemerintah Tunda Pemilihan Kepala Daerah. Sebut Pilkada 2020 sebagai Pilkada Maut

“Pagi mereka sudah berangkat kerja, pulang sore. Jadi manalah sempat kenal,” ujarnya.

Tidak hanya dia, bahkan tetangga dua rumah dari lokasi penggrebekan juga mengaku hal yang sama.

Dari informasi yang dihimpun Tribun, saat ini remaja yang dibawa Densus 88 ke Mapolda Kepri sedang menjalani pemeriksaan aparat.

Kerap mealawan orang tua

Penangkapan F tersebut praktis membuat kaget orang tuanya. Ibu dari remaja laki-laki tersebut mengakui, sikap anaknya memang berubah sejak beberapa tahun terakhir.

Kepada TribunBatam.id, sikapnya itu bahkan tidak dapat dipahami oleh kedua orang tuanya.

“Tak tahulah saya lihat kelakuan anak itu, tak bisa dibilangi, tak bisa diarahkan. Hanya maunya saja. Bahkan kami pula yang diarahkannya,” ujar sang ibu.

Ia mengatakan, sebelum mendapat kabar kalau anaknya diringkus polisi, ia diketahui sudah hampir sepekan tidak pulang ke rumah.

Bersama suami, ia pun melapor kepada polisi untuk mencari keberadaan anaknya.

Alangkah terkejutnya ia, ketika mengetahui kabar kalau anaknya sudah ditahan di Mapolda Kepri.

“Tidak tahu apa permasalahannya. Tahu-tahu dapat kabar sudah ditahan di Mapolda Kepri. Saya pun heran, darimana anak saya bisa terlibat dengan jaringan terorisme jika benar seperti itu,” ucapnya.

Menurutnya, anaknya hanya berada di Kota Batam dan tidak ada bepergian keluar kota. Ia pun mengungkapkan perubahan perilaku anaknya itu.

Tidak hanya dirinya, ayahnya pun menurutnya kerap dilawan.

Baca Juga :  Hotel-hotel di 7 Provinsi Sudah Siap Menampung Pasien Covid-19 Kritis

“Saya tidak tahu lagi mau bilang apa. Saya pun dilawan, bapaknya pun dilawan. Jadi kami berdua dianggap seperti musuh. Apalagi kalau diatur. Dia ingin maunya saja,” katanya.

Ia mengungkapkan, anaknya sudah meninggalkan bangku pendidikan sejak kelas 4 Sekolah Dasar di Batam Centre.

Sudah 4 sekolah yang ia jalani, namun tidak ada yang selesai hingga Sekolah Dasar.

“Sudah kami paksa sekolah, sudah capek marahinnya namun memang tak bisa lagi diarahkan,” sebutnya.

Akibat ulahnya, ia pun sampai dikeluarkan dari sekolah akibat bandel dan kerap bolos sekolah.

Sang ayah bahkan pernah masuk penjara atas kelakuan anaknya itu.

Berharap sikapnya akan berubah, ia pun mencoba membawa anaknya itu pergi ke tempat neneknya di Lampung.

Sayangnya, ia kembali berulah hingga orang tuanya membawanya kembali pulang ke Kota Batam.

Kepada ibunya, remaja yang diduga terlibat jaringan teroris itu berkeinginan menjadi tentara.

“Saya sempat bilang, bagaimana mau jadi tentara kalau sekolah saja tidak tamat. Ia menjawab, tidak perlu punya ijazah untuk jadi militer. Jadi tentara relawan pun bisa,” ucapnya menirukan ucapan anaknya itu.

Melihat sifatnya yang seperti itu, Ia pun tak habis pikir dan bingung.

Ia juga mengatakan, anak laki-lakinya itu tidak memiliki rasa takut.

Saat ia menjenguk anaknya di Mapolda Kepri, anaknya sempat menentang petugas.

“Petugas sampai menghubungi saya, bahwa anak F tidak memiliki rasa takut apapun. Makanya bingung saya,” katanya.

www.tribunnews.com