JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kesaksian Lengkap Petugas Medis di Sragen Yang Diteror dan Diancam Usai Tangani Pasien Positif Covid-19. Ungkap Sempat 10 Kali Ditelepon Pengirim Pesan, Merasa Sudah Tangani Pasien Sesuai Prosedur!

S (50), petugas medis di Puskesmas Kedawung II yang menjadi korban teror dan diancam via WA usai tangani pasien positif covid-19. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
S (50), petugas medis di Puskesmas Kedawung II yang menjadi korban teror dan diancam via WA usai tangani pasien positif covid-19. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Petugas medis di Puskesmas Kedawung II Sragen berinisial S (50), akhirnya buka suara terkait intimidasi via WhatsApp (WA) yang diterimanya saat menangani pasien positif corona virus atau covid-19 di wilayahnya.

Hingga saat ini, S mengaku tidak mengetahui apa penyebab pengirim pesan merasa dizalimi hingga nekat mengancamnya.

Ia pun juga masih bingung siapa yang tega mengirimkan ancaman yang sempat mengguncang psikologis dirinya dan keluarganya itu.

Ditemui di Puskesmas Pembantu (Pustu) yang ditinggalinya selama ini, S menceritakan ihwal kronologi bagaimana dia menangani pasien positif berinisial I (23) asal Desa Jenggrik, Kedawung pekan lalu.

Sampai akhirnya dia justru malah menerima berondongan pesan bernada ancaman via WA. S yang berstatus janda dan tinggal dengan dua anaknya itu mengaku sejak awal berusaha merangkul I dan keluarganya ketika melakukan rapid test hingga penjemputan I yang kemudian dinyatakan positif swab test.

Menurut S, pasien yang ditanganinya awalnya memang sempat berontak dan tidak kooperatif ketika disampaikan hasil rapid test dan swabnya positif.

Namun dengan berbagai pengarahan dan pendekatan, pasien muda tersebut akhirnya luluh dan mau dikarantina ke gedung SMS Sragen.

Demi meluluhkan sang pasien, S mengaku sampai rela menuruti permintaan si pasien yang minta dijemput di jalan, bukan di rumahnya.

Baca Juga :  Kabar Duka dari Sragen Utara, Kakek 75 Tahun asal Mondokan PDP Corona Meninggal Dunia. Jadi Korban Meninggal ke-26 di Sragen

Penjemputan dilakukan malam hari sehabis Isya atas permintaan si pasien untuk menghindari stigma dari warga. S menuturkan malam saat penjemputan, dirinya diantar putrinya dan ditemani dua petugas medis dari Puskesmas.

Bahkan malam itu, dirinya rela menunggu sendirian di jalan, sedang putrinya dan dua petugas medis berada di ambulans. Sampai kemudian S datang diantar 4 anggota keluarganya baru kemudian dibawa ke gedung SMS.

S juga menceritakan saat penjemputan hingga sampai di gedung SMS, ia merasa semuanya berjalan kondusif.

“Saya sampaikan bahwa petugas medis itu hadir untuk mengobati bukan mendzalimi. Memang klaster ini agak beda dengan yang lain. Namun dengan berbagai pendekatan akhirnya mereka nurut hingga mau diisolasi. Selang beberapa hari, saya dapat WA (ancaman) seperti itu, otomatis saya kan kaget,” ujar S kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Senin (1/6/2020).

Pesan melalui WA tersebut, diterima S Jumat (29/5) pagi. Dalam pesannya, pengirim mengaku sebagai koordinator klaster dari pasien positif Corona yang ditangani S.

Berdasarkan tangkapan layar atau screenshoot pesan WA yang diterima JOGLOSEMARNEWS.COM , si pengirim teror  melontarkan sekitar 10 pesan bernada intimidasi yang dikirim dalam rentang pukul 06.45 WIB hingga 06.55 WIB.

Baca Juga :  Terungkap, Aksi Perusakan Tugu PSHT di 3 Kecamatan di Sragen Libatkan Rombongan IKSPI. Diduga Untuk Show Of Force, Sempat Kocar-Kacir Dihalau Polisi Hingga Puluhan Motor Ditinggal

Salah satunya menyebut bahwa si pengirim sudah mempunyai data petugas medis itu.

Kemudian si petugas medis itu dinilai ikut andil mendzaliminya, sampai kalimat “Kami Punya Cara Sendiri utk Membalas”, “Kalo g sekarang brrti besok atau Lusa”, “Hati2 dg Kehidupan ANDA” dan beberapa pesan lainnya.

Karena merasa terancam dan ketakutan, si petugas medis perempuan itu kemudian mengadu ke pimpinannya yakni Kepala UPTD Puskesmas Kedawung.

“Sebelumnya, Kamis malam nomor itu sempat telepon saya sepuluh kali lebih. Namun tidak saya angkat karena sudah malam. Paginya baru saya telepon balik, namun selalu di-reject hingga tiga kali. Akhirnya dia malah mengirim pesan (ancaman) seperti itu,” urai S.

S mengaku tidak tahu alasan pengirim pesan merasa dizalimi. Dirinya memastikan seluruh proses penanganan pasien sudah sesuai prosedur yang ada.

“Kalau takut, saya tidak. Itukan juga resiko pekerjaan, saya harus siap dengan resiko apapun. Cuma tidak nyaman, karena saya sebagai petugas sudah menjalankan tugas sesuai dengan prosedur yang ada. Saya dengan pasien positif itu hubungannya baik, cuma mungkin ada orang-orang yang tidak suka, saya mikirnya seperti itu,” paparnya. Wardoyo