JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

Outlook Ekonomi Dunia IMF Minus, Bagaimana Dengan Indonesia?

ilustrasi / tempo.co

IMF memproyeksikan ekonomi global akan berada di -4.9% di 2020, lebih rendah 1.9% disbanding proyeksi World Economic Outlook (WEO) bulan April 2020. Pada 2021 pertumbuhan global diproyeksikan tumbuh 5,4 % lebih rendah 6.5% lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelum COVID-19 di Januari 2020. Bagaimana proyeksi ekonomi Indonesia dan IHSG?

Revisi Proyeksi Ekonomi IMF

IMF merevisi outlook pertumbuhan global yang telah dirilis bulan April. IMF memproyeksikan ekonomi global -4.9%, turun 1.9% dari proyeksi bulan April. Konsumsi diperkirakan mengalami penurunan akibat lockdown. Di sisi investasi juga diprediksiakan turun karena perusahaan menahan belanja modal untuk ekspansi di tengah ketidakpastian yang tinggi.

Kelompok Negara maju diprediksi akan turun dalam hingga -8% pada 2020. Amerika (–8,0%); Jepang (–5,8 %); Inggris (–10,2 %); Jerman (–7.8%); Prancis (–12,5 %); Italia dan Spanyol (–12,8 %). Sedangkan di ekonomi berkembang, ekonomi diprediksi -3% dan ekonomi berpendapatan rendah diproyeksikan kontraksi -1% pada tahun 2020.

Proyeksi IMF: Ekonomi Indonesia 2020 di Level Minus

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi -0.3% di tahun 2020. Proyeksi dari IMF sejalan dengan proyeksi pemeritah sebesar -0.4% hingga 1%. Ini menjadi perhatian untuk ekonomi Indonesia karena ancaman resesi itu nyata.

Presiden Joko Widodo kemarin menyatakan Indonesia sudah mengalami krisis ekonomi dan kesehatan. Pendekatan konservatif oleh Presiden Jokowi demi meningkatkan awareness masyarakat terhadap penyebaran COVID-19 di Indonesia yang belum mengalami penurunan.

Upaya Pemerintah Menopang Ekonomi

Pemerintah melakukan upaya untuk menghindarkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Pemerintah menganggarkan Rp 641.12 triliun untuk program PEN ini.
Dana tersebut akan digunakan untuk stimulus untuk konsumsi, subsidi bunga, insentif pajak, subsidi BBM, kompensasi untuk Pertamina dan PLN, tambahan belanja sektor (wisata, perumahan, dan cadangan belanja sektoral). Kemudian, dana ini juga digunakan untuk dukungan Pemda, kredit modal kerja baru untuk UMKM, PMN, talangan modal kerja, dan restrukturisasi kredit UMKM.

Selain itu, pemerintah juga kemarin mengucurkan dana Rp 30 triliun kepada Bank BUMN untuk menggerakan sector riil. Penempatan dana ini menggunakan system deposito dengan bunga 80% dari suku bunga acuan.

Pemerintah juga merevisi APBN 2020. Defisit APBN menjadi Rp 1.039 triliun. Belanja Negara meningkat Rp 125.34 triliun menjadi Rp 2739.16 triliun. Peningkatan ini karena adanya tambahan belanja untuk penanganan pandemi COVID-19 sebesar Rp 255.11 triliun. Di sisi pendapatan, pemerintah juga merevis ianggarannya menjadi Rp 1699.95 triliun atau trun Rp 60.93 triliun.

V-shape Recovery

Kami meyakini IHSG pada kuartal-III mulai recovery dengan bentuk V dan masuk trend bullish dengan target 5600-5710 di area resisten MA 200 pada tahun 2020 nanti. Kami optimis dengan gencarnya uji coba vaksin dan obat untuk penanganan COVID-19 oleh beberapa Negara termasuk Indonesia.
Selain itu optimism bangkitnya ekonomi di kuartal-III sejalan dengan dibukanya PSBB.

Lebih baik trading tidak terlalu agresif untuk jangka pendek periode Juni-Agustus selama masa rilis data ekonomi dan emiten di kuartal-2. Pembelian agresif bias dimulai di kuartal-III dengan tetap memperhatikan resiko.

Peluang Saat IHSG Masih Tertekan

IHSG kemarin ditutup pada level 4904 melemah 0.15%,turun 7 poin. IHSG akan cenderung bergerak mixed dengan range 4800-5000 dalam jangka pendek. Waspada terhadap resisten kuat di level 5000. Pergerakan IHSG masih terbatas, serta ada potensi koreksi, khususnya di semester 2 terkaitrilis data ekonomi dan kinerja emiten yang akan terdampak pandemi.

Tekanan IHSG ini bias menjadi peluang untuk mengakumulasi saham-saham yang sudah terdiskon dengan fundamental yang baik dan tetap memperhatikan money management. Untuk alokasi saham investasi maksimal 5 saham each 20% dari total portofolio. Masing-masing per saham boleh beli total 5% dari modal per saham, alias 1% dari total modal di portofolio. (*)

Ellen May
Pakar Saham Indonesia