JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Guru Berprestasi di Karanganyar Ini Ungkap Bagaimana Sulitnya Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. Dari Kendala Kuota Hingga Siswa Tak Punya Ponsel Pintar

Siti Chotijah. Foto/Wardoyo
Siti Chotijah. Foto/Wardoyo

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi Covid-19 belum juga mereda. Sudah hampir empat bulan, kehidupan sosial masyarakat masih terkekang akibat pandemi covid-19.

Kondisi ini berdampak pada seluruh aspek kehidupan, terutama dalam hal proses belajar mengajar di sekolah.

Para siswa pun terpaksa tetap belajar di rumah melalui daring atau online. Hanya saja, proses pembelajaran melalui daring ini, tidak sepenuhnya berjalan lancar.

Para kalangan pendidik pun angkat bicara bagaimana sulitnya menghadapi pembelajaran di masa pandemi. Siti Chotijah, salah satu guru SD Negeri 1 Suruh, Kecamatan Tasikmadu Jumat (17/07/2020) menyampaikan, ada sejumlah kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran di masa pandemi Covid-19 ini.

Mulai dari tempat, kondisi dan jaringan internet sebagai penghubungnya.
Dari sisi internet, Siti Chotijah mnjelaskan, terbatasnya kuota internet yang dimiliki siswa, membuat proses belajar mengajar melalui daring, sering terputus.

Baca Juga :  Razia Malam-Malam, 13 Warga Sragen Tertangkap, 4 Orang Harus Bayar Denda Rp 50.000!

Salah satu guru berprestasi di Karanganyar tersebut mengusulkan, agar pemerintah dapat memberikan bantaun berupa subsidi pembelian quota internet kepada orang tua siswa.

Siti juga mengungkap tidak seluruh siswa dapat mengikuti proses belajar mengajar melalui daring ini. Pasalnya ada sebagian siswa utamanya dari kalangan menengah ke bawah tidak  memiliki ponsel pintar yang bisa digunakan mengakses pembelajaran daring.

Untuk mensiasati hal tersebut, pihaknya  memberikan tugas kepada siswa melalui ponsel melalui grup whatsapp orang tua siswa dan guru.

Baca Juga :  Pandemi Covid-19 Juga Bikin Anak-anak Stres, Ini Tips Menjelaskan tentang Virus Corona pada Anak agar Tidak Cemas

“Sebagai guru, kami juga harus siap 24 jam melayani siswa. Bagi  siswa yang tidak mengikuti daring pagi hari, mereka minta belajar online pada malam hari atau pada saat orang tua mereka  ada di rumah. Bagi kami, hal ini tidak masalah, selama materi yang disampaikan tersebut, dapat dimengerti dan dipahami oleh peserta didik,” jelasnya.

Ditambahkannya,  kendala lain yang dihadapi, para guru juga mengalami kesulitan dalam mengamati perkembangan siswa selama proses belajar online ini.

“Hambatan utama belajar dari rumah bagi guru  tidak dapat memantau perkembangan para peserta didik. Kondisi ini berbeda ketika proses belajar mengajar dilakukan dengan tatap muka,” pungkasanya. Wardoyo