JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Tersesat di Gunung Bisa Berakibat Fatal Berupa Kematian. Mengapa Banyak Pendaki Sering Tersesat Di Gunung Lawu, Berikut Ini Penyebabnya

Pendaki melintas di jalur pendakian Gunung Lawu, Jawa Tengah. Foto: Tempo.co 
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Pendaki melintas di jalur pendakian Gunung Lawu, Jawa Tengah. Foto: Tempo.co

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM -Satu lagi pendaki Gunung Lawu tersesat. Pendaki bernama Andi Sulistyawan (18), warga Punthukrejo, Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar itu dan ditemukan sudah tidak bernyawa oleh Tim SAR yang melakukan pencarian.

Faktor tersesat juga menjadi penyebab meninggalnya pendaki. Saat tersesat, kondisi pendaki kehilangan arah saat hendak turun ataupun naik Gunung Lawu. Ini bisa mengakibatkan dehidrasi, kelelahan.

Pengalaman pendaki yang tersesat di Gunung Lawu sudah banyak jumlahnya. Tercatat dari jumlah pengunjung Gunung Lawu per tahun sekitar 18.000 orang yang melewati Pos Candi Cetho dan Pos Cemara Kandang selalu saja ada yang tersesat meski jumlahnya kecil.

Mereka yang tersesat bisa berakibat fatal, mulai dari kedinginan dehidrasi, pingsan, koma hingga banyak yang meninggal dunia. Menurut data yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS.COM dari  Dinas Pariwisata Karanganyar diketahui ada tiga faktor yang menyebabkan pendaki tersesat.

Baca Juga :  Poster Habib Riziq Dibakar, Puluhan Massa Ormas Islam Geruduk Polres Karanganyar. Desak Pelaku Pembakaran Diproses Hukum! 

Kadinas Pariwisata Karanganyar Titis Sri Jawoto mengatakan ketiga faktor tersesat itu, pertama, pendaki dalam kondisi tidak fit badan ataupun kejiwaan. “Pendaki yang blank biasanya terus mencari jalan pintas karena melihat ada desa dan dikiranya dekat. Namun setelah dilalui ternyata jalur putus di bawahnya jurang,” ujarnya.

Selanjutnya karena sudah tersesat lelah dan bekal habis maka pendaki itupun tidak tahu harus bagaimana, akhirnya dinyatakan tersesat dan banyak yang meninggal dunia karena kelelahan.

Faktor kedua pendaki tersesat, lanjut Titis, adalah faktor tertipu yaitu pendaki merasa melihat akses jalan, padahal itu bukan jalan tetapi saat dilihat seakan-akan itu merupakan jalan. Tak pelak selanjutnya dilaluilah jalur itu dan ternyata kecele karena adalah jalur putus dan jurang di bawahnya.

Baca Juga :  Keluar Balai Desa, Ratusan Warga Jatiwarno Karanganyar Sumringah Bawa Paket Bantuan Sembako

Faktor tersesat ketiga adalah pendaki merasa melihat akses jalan padahal lagi-lagi itu bukan jalan, melainkan hanya jalan air yang sudah mengering. Setelah dilalui pendaki akhirnya kecele karena akses putus masuk jurang. “Kalau sudah tersesat bekal habis mau kembali sudah tidak tahu arah kembali akhirnya ya tersesatlah,” jelasnya.

Untuk itu Titis menghimbau siapapun pendaki Gunung Lawu agar menaati jalur konvensional yang bisa dilalui saja. Sebab risikonya fatal jika mencoba mencari jalur alternatif. (Beni Indra)