JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Cina Luncurkan Paten Vaksin Covid-19 yang Pertama

Ilustrasi virus corona. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Otoritas di China dikatakan telah menyetujui aplikasi paten milik pembuat vaksin Cansino untuk membuat vaksin Covid-19.

Hal itu menandai paten pertama dan satu-satunya yang sejauh ini telah diberikan otoritas Cina untuk vaksin virus baru tersebut.

Cansino mengatakan kepada media pemerintah Cina, Global Times, paten tersebut mengonfirmasi keamanan dan kemanjuran kandidat utama vaksin yang dijuluki Ad5-nCoV.

Vaksin itu dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi dalam kemitraan dengan Akademi Ilmu Kedokteran Militer, lembaga penelitian di bawah Tentara Pembebasan Rakyat Cina.

Namun, paten itu tidak berarti bahwa vaksin siap untuk digunakan secara luas.

“Kandidat vaksin Cansino masih harus menyelesaikan uji klinis fase III, kemudian melalui proses persetujuan pemasaran terpisah di Cina yang menganggapnya aman dan efektif untuk digunakan secara luas,” kata Bryan Mercurio, ahli hukum farmasi dari Chinese University of Hong Kong, seperti dikutip Fortune, 19 Agustus 2020.

Investor memandang paten sebagai mosi percaya dari Beijing. Mengamankan paten adalah langkah penting untuk membawa vaksin ke pasar.

Dalam hal ini, Cansino memiliki keunggulan di atas rekan-rekannya, bahkan saat ia mengikuti uji klinis kandidatnya. Namun, Cansino tidak membalas permintaan komentar dari Fortune.

Dalam pengembangan vaksin ini, Cansino memang mengalami proses dinamika yang menarik. Perusahaan itu sempat mundur dalam perlombaan pengembangan vaksin pada Maret 2020 lalu, ketika itu menjadi vaksin kedua secara global yang menerima persetujuan untuk melakukan uji coba pada manusia.

Baca Juga :  Studi Profesor di Universitas AS Klaim Ada Kemungkinan Wabah Demam Berdarah Hambat Penyebaran Covid-19

Namun, Gary Rieschel, investor awal Cansino dan mitra pendiri Qiming Ventures Partners, mengatakan awal tahun ini bahwa Cansino bisa memanfaatkan pengalamannya ketika mengembangkan vaksin Ebola dan hubungannya dengan pemerintah dalam mempercepat pengembangan vaksin Covid-19.

Menurut Rieschel, pemerintah Cina mendekati Cansino pada Januari dan ingin membantu dalam mengerjakan vaksin Covid-19.

“Cansino jelas memiliki platform dan pendekatan yang dapat menangani banyak keluarga virus yang berbeda dalam hal melihat vaksin,” kata Rieschel.

Sementara pada Juni 2020, Cina telah menyetujui penggunaan vaksin Cansino untuk para anggota militernya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, rekan-rekan Cansino telah mendorong peluncuran uji coba fase III yang menguji vaksin pada ribuan relawan manusia. Pada saat yang sama, beberapa rencana Cansino sendiri terhenti.

Pada Mei 2020, Kanada mengumumkan akan bermitra dengan Cansino untuk melakukan uji coba fase I dan II, tapi pada awal Agustus 2020, Kanada belum menerima pengiriman.

Pihak berwenang Kanada memberi tahu Fortune bahwa persediaan disimpan di bea cukai Cina, dan para ahli percaya bahwa pihak berwenang Cina mungkin menunda pengiriman karena alasan politik.

Pada 13 Agustus 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa tiga pembuat vaksin Cina lainnya telah berlomba bersama Cansino dengan meluncurkan uji coba fase III.

Cansino sekarang tampaknya mulai mengejar dalam perlombaan vaksin tersebut.

Reuters melaporkan bahwa uji coba fase III pertama Cansino dimulai Jumat lalu di Rusia. Arab Saudi mengumumkan pada 9 Agustus 2020 bahwa mereka akan bermitra dengan Cansino untuk meluncurkan uji coba fase III guna menguji vaksin pada sekitar 5.000 warganya.

Baca Juga :  Media Asing Soroti Penanganan Covid-19 di Indonesia, Sebut Menkes Terawan sebagai Orang Paling Bertanggung Jawab atas Krisis Akibat Pandemi yang Dialami Indonesia

Cansino juga sedang dalam pembicaraan dengan Brasil, Meksiko, dan Chili untuk melakukan uji coba fase III serupa.

Dalam mendapatkan paten, Cansino harus menunjukkan bahwa kandidat vaksinnya memenuhi syarat sebagai sebuah invensi, artinya mampu menunjukkan langkah inventif dan kegunaan baru.

Menurut Mercurio, semua pembuat vaksin terkemuka Cina lainnya juga telah mengajukan paten dan lebih banyak persetujuan paten mungkin akan datang. Jika kandidat vaksin Cansino lolos uji klinis fase III, itu akan pindah ke proses persetujuan pemasaran.

Rata-rata, kata Mercurio, biasanya dibutuhkan 7-12 tahun untuk menerima persetujuan pemasaran dari otoritas Cina, sebuah proses yang kemungkinan dipercepat mengingat dorongan mengembangkan vaksin Covid-19 juga dipercepat.

“Sepenuhnya normal untuk menerima paten pada tahap awal dalam uji klinis, yang jarang adalah kecepatan uji klinis dilakukan,” kata Mercurio.

Proses paten dan persetujuan pasar sepenuhnya terpisah, artinya memiliki paten tidak diperlukan untuk persetujuan pemasaran, tapi kedua proses tersebut umumnya berjalan seiring.

Menurut pakar hukum paten dan farmasi dari University of Hong Kong, Li Yahong, hampir semua obat diberikan paten sebelum memulai uji klinis dan persetujuan pemasaran.

Selain melindungi kekayaan intelektual, Yahong berujar, paten membantu pembuat vaksin mendapatkan dana untuk penelitian yang mahal dan uji coba tambahan.

“Tanpa paten, tidak ada modal yang masuk akal yang akan diinvestasikan dalam pengembangan vaksin,” katanya.

www.tempo.co