JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Era New Normal, Usaha Pariwisata di DIY yang Mati Suri Mulai Bangkit

Penarik andong membawa wisatawan berbelanja di pusat oleh-oleh sekitar kawasan Malioboro. Tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi Covid-19 mengakibatkan sektor pariwisata di Yogyakarta mati suri . Pengelola destinasi wisata, mulai dari perajin cenderamata, pemilik penginapan, dan lainnya, semua berhenti berdenyut sejak wabah corona merebak pada pertengahan Maret 2020.

Namun memasuki masa new normal pandemi Covid-19, pariwisata di Yogyakarta mulai menggeliat kembali.

Pemerintah Provinsi DIY melalui layanan visitingjogja.com mencatat, sejak Juli hingga Agustus 2020, lebih dari 27.000 wisatawan datang ke sana.

Hanya saja, kedatangan wisatawan itu belum diiringi dengan bangkitnya berbagai lini usaha di sektor pariwisata.

Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY, Santoso Rohmad mengatakan masih banyak pelaku industri yang belum siap menyambut wisatawan karena tak punya modal dan tak tahu harus memulai lagi dari mana.

“Kami mendorong munculnya pelaku-pelaku baru industri pariwisata dengan memanfaatkan layanan yang sudah disiapkan pemerintah,” ujar Santoso Rohmad di Yogyakarta, Selasa (4/8/2020).

Baca Juga :  Pulang dari Banten dan Surabaya, 4 Warga Gunungkidul Positif Covid-19

Saat ini bank milik Pemerintah DIY itu mengelola dana sebesar Rp 400 miliar untuk kredit usaha rakyat atau KUR.

Dari dana itu, sektor pariwisata mendapat prioritas. Plafon kredit yang dapat diajukan mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 500 juta.

Rohmad mencontohkan, bagi pemilik homestay di destinasi wisata dapat memanfaatkan layanan itu sebagai kredit lunak untuk kembali membuka usahanya.

Jika sebelumnya homestay tersebut belum memiliki fasilitas protokol Covid-19 yang memadai, maka kredit ini dapat digunakan untuk membeli peralatan untuk memenuhi protokol kesehatan.

“Yang penting tidak untuk kebutuhan konsumtif, melainkan mendukung usaha jasa pariwisata agar siap beroperasi kembali,” ujarnya.

Pelaku industri pariwisata sekunder juga dapat memanfaatkan kredit lunak ini. Misalkan perajin batik, cenderamata atau kuliner oleh-oleh.

Rohmad menambahkan, pengusaha pariwisata yang bergabung dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bisa mendapatkan keringanan bunga saat mengajukan kredit ini.

Baca Juga :  Yogyakarta Punya 5 Rute Jalur Wisata Sepeda, Menyusuri Perkampungan, Rute Bisa Diakses di Aplikasi Jogja Smart Service

Kepala Dinas Pariwisata DI Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan sektor pariwisata terpantau menggeliat perlahan sepanjang Juli hingga awal Agustus 2020. Sebanyak 51 persen wisatawan yang datang ke Yogyakarta berasal dari luar daerah, sedangkan sisanya dari kabupaten/kota di DI Yogyakarta.

“Yang terbanyak adalah wisatawan asal Jawa Tengah,” ujarnya.

Kendati sudah banyak wisatawan yang berkunjung, Singgih Raharjo mengatakan pemerintah belum berencana membuka semua destinasi wisata karena masih dalam masa tanggap darurat sampai akhir Agustus 2020. Pemerintah fokus memantau uji coba 32 objek wisata yang sudah dibuka sejak Juli lalu.

Berdasarkan evaluasi uji coba di sejumlah destinasi wisata yang sudah beroperasi, Singgih mengatakan masih banyak wisatawan yang belum mematuhi protokol kesehatan.

“Pengelola objek wisata harus berulang kali mengingatkan mereka agar menaati protokol kesehatan, misalkan belum pakai masker, akhirnya wisatawan beli masker dulu,” ujarnya.

www.tempo.co