JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Sudah Beraksi selama 5 Tahun, Korban Pelaku Fetish Bungkus Kain Jarik Capai 25 Orang, Lima Sudah Lapor Polisi

Ilustrasi gulungan kain. Foto: pexels.com

SURABAYA, JOGLOSEMARNEWS.COM Polisi telah memulai proses penyelidikan terhadap tersangka kasus fetish bungkus kain jarik, menyusul penangkapan tersangka berinisial G.

Dari hasil interogasi terhadap tersangka G, diketahui jika tersangka telah melakukan perbuatan fetish bungkus kain jarik itu sejak tahun 2015 atau lima tahun lalu. Jumlah korban menurut pengakuan tersangka mencapai 25 orang.

“Perbuatan tersebut dilakukan sejak tahun 2015 hingga 2020. Pengakuannya (tersangka), ada 25 orang (korban),” kata Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Johnny Eddizon Isir, Sabtu (8/8/2020).

Kendati demikian, diungkapkan Eddizon, baru ada lima orang saksi korban yang telah memberikan laporannya kepada pihak kepolisian. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan tetap mengembangkan kasus ini.

“Kita akan gali lebih lanjut terkait dengan hal ini (keterangan tersangka),” lanjut Eddizon.

Ia menambahkan, terkait dengan para korban, polisi telah menggandeng Pusat Krisis dan Konseling Center Universitas Airlangga untuk melakukan pendampingan secara psikologis. Selain itu, polisi juga berencana melakukan pemeriksaan kejiwaan tersangka ke psikiater.

Baca Juga :  Jumlah Kasus Positif Covid-19 Mencapai 3.874 Orang Pada Minggu

“Kita akan periksakan kejiwaan tersangka pada psikiater nantinya, terkait dengan kecenderungan seksualnya,” ungkapnya.

Dijerat Pasal UU ITE

Lebih lanjut, polisi disebut tidak akan menjerat tersangka G dengan sangkaan pelecehan seksual atau kesusilaan dan lebih menerapkan pasal dengan sangkaan tindak pidana pengancaman melalui ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

Kombes pol Johnny Eddizon Isir mengatakan, polisi tidak menemukan cukup bukti yang mengarah pada adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh tersangka G.

“Pasal 297 KUHP dan pasal 292 KUHP (soal tindak pidana asusila) untuk ancaman terhadap perbuatan dari tersangka ini belum bisa memenuhi anasir-anasir dari elemen di pasal 297 dan pasal 292 KUHP,” tegasnya

Baca Juga :  Gadis Belia di Palembang ini Dituding Jadi Pelakor, Dikeroyok 4 Orang hingga Disilet

Ia juga menyebut alasan soal korban yang bukan anak-anak, sudah dewasa dan sesama jenis. “Selain itu jaraknya juga menggunakan peralatan tadi, memvideokan dan mentransmisikan,” katanya.

Terkait dengan kasus ini, penyidik telah berupaya menggali dan menelaah pasal-pasal yang dapat dijeratkan, termasuk diantaranya pasal yang berkaitan dengan masalah kesusilaan.

“Kami coba menggali, melihat dan menelaah, kira-kira pasal sangkaan yang dapat dijeratkan pada tersangka ini apa saja, termasuk dari pasal 292 (KUHP) dan pasal 297, 296, pokoknya tentang kesusilaan coba kita kaji. Dan sejauh ini belum bisa untuk diterapkan pada perbuatan tersangka. Yang kita terapkan yang terkait dengan UU ITE,” pungkasnya.

Dalam kasus ini, polisi pun melihat jika tersangka hanya melakukan tindak pidana pengancaman terhadap para korbannya, sehingga mereka terpaksa harus mengikuti kehendak tersangka. Liputan 6