JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Bakal Terapkan Protokol Kesehatan Ketat, Harga Paket Ibadah Umrah di Masa Pandemi Diperkirakan Naik 10 Persen

Tangkapan layar video suasana Tawaf di Mekkah dalam rangkaian ibadah haji tahun ini yang memberlakukan social distancing. Foto: Twitter
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Pemerintah Arab Saudi telah mengumumkan akan segera membuka kembali akses bagi umat Muslim dari seluruh dunia yang ingin melaksanakan ibadah umrah. Namun dengan masih adanya pandemi Covid-19, biaya perjalanan ibadah umrah tersebut diperkirakan bakal mengalami kenaikan.

Kenaikan biaya perjalanan umrah tersebut dikarenakan kewajiban menerapkan protokol kesehatan ketat untuk mencegah penularan virus corona, seperti keharusan untuk karantina dan jaga jarak fisik selama menjalankan ibadah umrah.

“Pasti akan ada pengaruh biaya akibat protokol kesehatan. Kami belum tahu bagaimana standar karantina dan kapasitas kamar yang diatur, namun efeknya pasti ke kenaikan harga,” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Firman M Nur, saat dihubungi, Sabtu (26/9/2020).

Kenaikan harga, tutur Firman, juga pasti terjadi lantaran adanya lonjakan tarif pajak dan meningkatnya harga bahan bakar minyak atau BBM. Dari dua komponen yang sudah tentu mengalami peningkatan itu, kenaikan paket diprediksi mencapai 10 persen.

Baca Juga :  Lokasi Kecelakaan Tak Terpantau CCTV, Polisi Akui Kesulitan Mengidentifikasi Penabrak Mobil Hanafi Rais

Bila ditambahkan dengan beban biaya akibat protokol kesehatan, Firman meyakini kenaikan harga paket akan lebih dari 10 persen. Saat ini, ia belum menghitung secara pasti besaran kenaikan yang dimaksud. Namun, ia meminta jemaah untuk memaklumi adanya lonjakan harga paket ini.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Arab Saudi akan mulai melakukan uji coba pembukaan kegiatan umrah yang dibagi menjadi empat tahapan. Pertama, mulai 4 Oktober 2020, pemerintah mengizinkan warga Arab Saudi dan ekspatriat yang tinggal di negara itu untuk melaksanakan ibadah umrah dengan kapasitas 30 persen, atau setara dengan 6.000 jamaah umroh per hari.

Tahap kedua, mulai 18 Oktober 2020, Arab Saudi membuka aktivitas umrah dan sholat di Masjidil Haram, serta ziarah ke Raudhah Masjid Nabawi bagi warga Saudi dan ekspatriat dengan 75 persen dari kapasitas Masjidil Haram, yaitu 15.000 jemaah umrah dan 40.000 jemaah shalat per hari.

Baca Juga :  Kemenaker Klaim Bantuan Subsidi Upah Telah Disalurkan Kepada Lebih dari 12 Juta Pekerja

Tahap ketiga, mulai 1 November 2020, akan dibuka akses umrah untuk jemaah dari luar Arab Saudi dengan kapasitas mencapai 20.000 jemaah umroh dan 60.000 jemaah umum per hari.

Kemudian, tahap keempat, aktivitas umrah dan shalat di Masjidil Haram, serta ziarah ke Raudhah dari dalam dan luar Arab Saudi dibuka secara maksimal 100 persen dari kapasitas, yang mulai diberlakukan apabila otoritas berwenang memutuskan bahwa risiko pandemi berakhir.

Menurut Firman, bila Indonesia memperoleh kuota umrah, asosiasi akan lebih dulu memprioritaskan jemaah yang gagal berangkat sejak Februari lalu. Adapun berdasarkan catatan Amphuri, jumlah jemaah gagal berangkat mencapai 30.000 orang.

“Prioritas adalah jamaah yang sudah tertunda dari 27 Februari. Namun jadwalnya tergantung kesiapan jemaah masing-masing,” ucapnya.

www.tempo.co