JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Hingga September Tiga Hiu Tutul Terdampar di DIY, Ini Fenomena yang Terjadi

Hingga September Tiga Paus Terdampar di DIY / tribunnews
madu borneo
madu borneo
madu borneo

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Fenomena hiu tutul atau hiu paus (rhincodon typus) yang terdampar di Pantai Congot, ternyata telah terjadi selama tiga kali di wilayah Provinsi DIY.

Hal itu dinyatakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta. Pernyataan itu dilontarkan menyusul adanya penemuan hiu tutul terdampar di Pantai Congot pada Sabtu (19/9/2020).

Hewan yang masuk dalam kategori dilindungi berdasarkan Kepmen KP No.18/2013 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu sebelumnya juga pernah ditemukan terdampar di Pantai Glagah, Kulon Progo pada Minggu (23/2/2020) dan di pesisir pantai di perairan Kulon Progo tepatnya di Dusun 1, Kalurahan Garongan, Kapanewon Panjatan, Rabu (26/2/2020) silam.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Yogyakarta, Untung Suripto menyatakan, hiu paus yang terdampar di Pantai Congot tersebut diketahui pertama kali oleh warga sekira pukul 06.00 WIB.

Baca Juga :  Bahas Digitalisasi Aksara Jawa, Menkominfo Temui Sri sultan HB X

“Lokasinya pas di muara sungai Bogowonto. Panjangnya sekitar 5,9 meter dan kategorinya mungkin remaja menjelang dewasa,” ujar Untung saat dihubungi.

Menurut dia, dimungkinkan salah satu mamalia laut terbesar itu terdampar di darat sejak malam atau dini hari tadi dan telah dalam keadaan mati saat ditemukan warga.

“Untuk menghindari pembusukan segera kami kuburkan dan ini juga dilarang untuk dikonsumsi,” katanya.

Pihaknya belum bisa memastikan penyebab dari terdampar dan kematian paus itu, namun berdasarkan pengamatan dari ciri-ciri fisik tidak ditemukan adanya tanda penyakit maupun hal lain pada tubuh hiu paus.

“Kemungkinannya disorientasi, hiu paus kan punya semacam navigasi jadi seperti salah arah begitu dan navigasinya terganggu sehingga penyebabnya banyak, tapi kami tidak bisa menyimpulkan. Salah satunya ya bisa jadi karena pemanfaatan alat tangkap ikan dengan menggunakan bom,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemkot Yogyakarta Poles Malioboro Agar Menarik Wisatawan di Masa Liburan

Untung menyatakan, karena kendala sumber daya manusia pihaknya tidak melakukan proses nekropsi guna melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap fenomena terdampar dan matinya hiu paus itu.

Padahal, dua hiu paus yang terdampar awal tahun lalu sempat diproses oleh pihaknya guna mengetahui penyebab pasti kematian hewan itu.

“Kalau yang dulu pertama itu iya kami lakukan, tapi memang itu hewannya sudah tua dan tidak ada tanda-tanda yang aneh. Kalau yang sekarang tidak karena pandemi Covid-19 ini,” katanya.

Hiu paus termasuk ke dalam salah satu jenis hiu terbesar di dunia dengan panjang kisaran mencapai 5,5 – 18 meter dan bobot hingga 19 ton. Masa hidupnya pun terbilang lama dengan umur mencapai puluhan tahun.

www.tribunnews.com