JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

UGM Kembangkan Sistem Peringatan Dini Gempa, Klaim Bisa Deteksi dan Prediksi Gempa 3 Hari Sebelum Terjadi

gempa
Ilustrasi gempa. Foto: pixabay.com

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengklaim telah berhasil mengembangkan sistem peringatan dini (EWS) gempa bumi yang mampu mendeteksi dan memperikan peringatan akan terjadinya gempa hingga tiga hari sebelumnya.

Sistem peringatan dini gempa tersebut menggunakan data perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang disebut merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa. Tim peneliti UGM ini bahkan menyebut sistem yang mereka kembangkan telah mampu memprediksi gempa dari Sabang hingga Nusa Tenggara Timur.

“Dari EWS gempa algoritma yang kami kembangkan, bisa tahu satu sampai tiga hari sebelum gempa. Jika gempa besar di atas 6 SR, sekitar 2 minggu sebelumnya alat ini sudah mulai memberikan peringatan,” jelas Ketua tim riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Prof Sunarno, Minggu (27/9/2020).

Sunarno menjelaskan, apabila akan terjadi gempa di lempengan, akan muncul fenomena paparan gas radon alam dari tanah meningkat secara signifikan. Demikian juga permukaan air tanah naik turun secara signifikan.

“Dua informasi ini dideteksi oleh alat EWS dan akan segera mengirim informasi ke handphone saya dan tim. Selama ini informasi sudah bisa didapat dua atau tiga hari sebelum terjadi gempa di antara Aceh hingga NTT,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pemerintah DIY Beli Gedung Hotel Mutiara di Malioboro Yogyakarta, Bakal Dirombak Jadi Mal UMKM

Sistem yang dikembangkan tim peneliti dari UGM itu terdiri dari alat EWS yang tersusun dari sejumlah komponen, seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon, pengkondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, dan sumber daya listrik. Lalu, memanfaatkan teknologi internet of things (IoT) di dalamnya.

Dia menyampaikan, pada tahun 2018, dirinya bersama dengan tim telah melakukan penelitian untuk mengamati konsentrasi gas radon dan level air tanah sebelum terjadinya gempa bumi. Pengamatan yang telah dilakukan kemudian dikembangkan sehingga dirumuskan dalam suatu algoritma prediksi sistem peringatan dini gempa bumi.

Sunarno menyebut, sistem peringatan ini terbukti telah mampu memprediksi terjadinya gempa bumi di Barat Bengkulu M5,2 pada 28 Agustus 2020, Barat Daya Sumur-Banten M5,3 (26 Agustus 2020), Barat Daya Bengkulu M5,1 (29 Agustus 2020), Barat Daya Sinabung Aceh M5,0 (1 September 2020), Barat Daya Pacitan M5,1 (10 September 2020), Tenggara Naganraya-Aceh M5,4 (14 September 2020), dan lainnya.

Sistem peringatan dini gempa ini telah digunakan untuk memprediksi gempa. Ada lima stasiun pantau EWS yang tersebar di DIY yang setiap 5 detik mengirim data ke server melalui IoT. “Lima stasiun EWS ini masih di sekitar DIY. Jika seandainya terpasang di antara Aceh hingga NTT kita dapat memperkirakan secara lebih baik, yakni dapat memprediksi lokasi lebih tepat atau fokus,” terangnya.

Baca Juga :  Libur Panjang di Yogyakarta, 1.009 Personel Polisi Diterjunkan untuk Pengamanan

Sunarno menyebutkan sistem deteksi tersebut dikembangkan sebagai mekanisme membentuk kesiapsiagaan masyarakat, aparat, dan akademisi untuk mengurangi risiko bencana. Sebab, posisi Indonesia yang berada di tiga lempeng tektonik dunia menjadikannya rentan terjadi gempa bumi.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2019 telah terjadi 11.473 gempa bumi di wilayah Indonesia, di mana aktivitas gempa bumi signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 terjadi sebanyak 344 kali. Sedangkan gempa kecil dengan kekuatan kurang dari magnitudo 5,0 terjadi sebanyak 11.229. Gempa-gempa tersebut tak hanya menyebabkan ratusan korban luka, tetapi juga merusak ribuan bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum.

Dia mengatakan bahwa sistem peringatan dini gempa bumi ini akan terus dikembangkan hingga mampu memprediksi waktu terjadinya gempa secara tepat, lokasi koordinat episentrum gempa hingga magnitudo gempa.

Pengembangan sistem peringatan dini gempa bumi ini diharapkan dapat membantu aparat dan masyarakat dalam melakukan evaluasi penyelamatan penduduk lebih cepat. Selain itu, juga bisa menjadi rekomendasi sistem instrumentasi untuk peringatan dini gempa bumi dan memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai prediksi gempa bumi sehingga selalu siap dan waspada terhadap bencana gempa bumi.

www.tempo.co