JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Pelajar Depok Yang Ikut Demo Omnibus Law Akan Dipersulit Cari SKCK, Ada Catataan: Pemohon Adalah Perusuh

Sejumlah pemuda melempari batu ke arah polisi yang sedang berjaga di belakang gedung DPR, Jalan Tentara Pelajar, Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2020. Para pemuda itu merupakan pelajar SMA, siswa SMK, dan pengangguran yang sama sekali bukan bagian dari buruh dan mahasiswa yang akan menggelar demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. Tempo.co

DEPOK, JOGLOSEMARNEWS.COM – Para pelajar yang tertangkap tangan hendak mengikuti demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja dan berpotensi rusuh, akan dipersulit saat membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian atau SKCK.

Hal itu dikatakan oleh Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Azis Andriansyah.

“Kalau dia berpotensi (menyebabkan) rusuh, tidak akan kami terbitkan,” kata Azis, Rabu (14/10/2020).

Jika SKCK perlu diterbitkan, polisi akan memberi keterangan bahwa pemohon adalah perusuh.

Baca Juga :  Dewan Kehormatan PWI Se-Indonesia Dukung Sanksi Tegas Bagi Wartawan Partisan dalam Pilkada

“Sehingga sulit bagi yang bersangkutan untuk mencari pekerjaan,” ujarnya.

Azis mengatakan, kebijakan itu telah dibuat komitmen bersama Antara Pemerintah Kota Depok dan seluruh kepala sekolah.

“Saya sudah membuat komitmen bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Wali Kota.” Ia telah meminta para pendidik untuk mengingatkan siswa-siswanya agar masa depan mereka cerah.

“Jangan membuat pondasi belajar yang tidak baik,” kata Azis.

Hingga hari ini, Polres Metro Depok masih terus menghambat masyarakat dan pelajar yang bergerak dari Depok menuju Jakarta yang hendak mengikuti demontrasi tolak UU Cipta Kerja.

Baca Juga :  Tak Akan Terbitkan Perpu Soal UU Cipta Kerja, Jokowi Siap Lakukan Koreksi

Hasil penyekatan Selasa 13 Oktober 2020 malam, ada 52 pelajar yang terjaring polisi, tujuh di antaranya adalah siswi atau pelajar perempuan.

Dari keseluruhan pelajar yang ditahan, dua orang dinyatakan reaktif Covid-19 setelah dites cepat (rapid test).

“Ini kan bahaya karena bisa menular kepada yang lain,” kata Azis.

www.tempo.co