JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Kesadaran Berobat Penderita Hipertensi di Jati Kudus Masih Rendah

Kepala UPT Puskesmas Jati, Amad Mochamad saat melaksanakan sosialisasi pada Kamis (12/11) siang. Istimewa
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

KUDUS, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kesadaran para penderita hipertensi yang berada di wilayah UPT Puskesmas Jati untuk berobat teratur ternyata masih rendah. Selain itu, balita yang mendapatkan ASI eksklusif dan untuk anggota keluarga yang tidak merokok juga masih sangat rendah.

Hal itu diungkapkan Kepala UPT Puskesmas Jati Kudus, Amad Mochamad, pada Kamis (12/11/2020) siang.

“Untuk mendukung agar penderita hipertensi diwilayahnya bisa lebih teratur dalam berobat, maka pihaknya menggandeng jejaring seperti klinik dan Balai Pengobatan. Karena penderita hipertensi dalam berobat tidak hanya di puskesmas saja,” terang dia.

Ia menjelaskan lebih detail, untuk mendukung upaya agar bayi bisa diberikan ASI eksklusif oleh ibunya, pihaknya sudah membentuk kampung ASI yang ada di Desa Jati Kulon dan Desa Pasuruhan Lor.

Baca Juga :  Tega, Pelajar Asal Kendal Dicekoki Miras Lalu Digilir 5 Pria Dari Sore Hingga Pagi. Satu Pelaku Adalah Pacar Korban Minta Jatah 3 Kali

“Dengan memberdayakan masyarakat setempat. Diakuinya, beberapa kendala masih rendahnya pemberian ASI eksklusif karena ibu si bayi banyak yang bekerja,” terang dia.
“Dari ketiga elemen yang masih rendah itu lanjut Amad, memang perlu ada dukungan dari masyarakat luas,” imbuh dia.

Dikonfirmasi terkait penderita TBC, Amad mengungkapkan, yang ada di wilayah UPT Puskesmas Jati jumlahnya stagan.

“Saat ini kami masih mengobati sebanyak 48 penderita TBC,” jelas dia.
“Kami bersyukur karena jumlah penderita TBC MDR sendiri sudah turun karena ada kesadaran untuk berobat rutin,” imbuh dia.

Baca Juga :  Dicekoki Miras Conyang, Siswi 15 Tahun asal Semarang Digilir 5 Pemuda Bergantian. Korban Digarap di Madrasah, di Rumah Kosong hingga di Kebun

Amad menambahkan, dari ketiga elemen yang masih rendah memang perlu ada dukungan dari masyarakat luas. Termasuk memberdayakan Forum Kesehatan Desa (FKD) dan Kader kesehatan yang selalu diajak untuk memberikan edukasi pentingnya kesehatan keluarga.

“Untuk melihat keteraturan bagi penderita hipertensi maupun penderita TBC, juga perlu dilakukan kunjungan rumah,” jelas dia.

“Dan saat – saat tertentu, kami juga melakukan kunjungan rumah. Dalam kunjungan ini kami dapat melakukan pemantauan terkait jamban, apakah sudah memenuhi syarat apa belum,” pungkas dia. Ahmad| Satria Utama