JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Demokrat Tuding Istana Dongkel Kepemimpinan Partainya, Moeldoko: Jangan Dikit-dikit Istana

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (13/1/2020) / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hubungan Partai Demokrat dengan Istana kian memanas. Pasalnya, pihak istana dituding berniat mendongkel kepemimpinan di partai berlambang mercy tersebut.

Namun, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko membantah keterlibatan Istana. Ia mengatakan Presiden Joko Widodo dalam hal ini tak tahu menahu tentang urusan ini.

“Dalam hal ini, saya mengingatkan, sekali lagi jangan dikit-dikit Istana. Dan jangan ganggu Pak Jokowi dalam hal ini. Karena beliau dalam hal ini tak tahu menahu sama sekali,” kata Moeldoko saat memberi klarifikasi secara daring, Senin (1/2/2021).

Tudingan Partai Demokrat awalnya menjelaskan adanya gerakan politik yang melibatkan pejabat di lingkaran Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan ingin merebut kekuasaan pimpinan Demokrat secara inkonstitusional.

Baca Juga :  34 Napi Terorisme di Lapas Gunung Sindur Ucap Ikrar Setia pada NKRI dan Hormat Bendera Merah Putih

Belakangan, diungkap bahwa sosok yang dimaksud adalah Moeldoko. Moeldoko pun membantah hal itu. Yang selama ini terjadi, kata dia, adalah ia menerima kunjungan sejumlah orang ke rumahnya.

Ia mengaku banyak menerima berbagai macam tamu di rumahnya. Namun beberapa di antara tamunya, curhat tentang kondisi Partai Demokrat pada dia.

“Ya saya dengerin saja. Berikutnya ya, sudah dengerin saja. Saya sebenarnya prihatin dengan situasi itu. Karena saya juga bagian yang mencintai Demokrat,” kata Moeldoko.

Setelah itu, muncul kabar bahwa ia terlibat dalam upaya merebut kekuasaan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Dengan penjelasan kronologis itu, ia menegaskan bahwa Jokowi tak tahu apa-apa dalam urusan ini.

Baca Juga :  Meski Akui Dapat Keuntungan dari Isu Kudeta, AHY Bantah Kabar Bahwa Kudeta Bagian dari Skenarionya

“Kalau ada istilah kudeta, itu dari dalam. Masa kita dari luar,” kata Moeldoko.

Ia pun kemudian memberi saran untuk menjadi seorang pemimpin. Meski begitu, ia tak menegaskan kepada siapa saran itu ia tujukan.

“Saran saya, jadi seorang pemimpin itu jadilah pemimpin yang kuat. Jangan mudah baperan, jangan mudah terombang-ambing dan seterusnya,” kata Moeldoko setelah dituding petinggi Partai Demokrat.

www.tempo.co