JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Hanya Karena Yakin, Sejumlah Anggota DPR Mau Disuntik Vaksin Nusantara, Padahal BPOM Tak Rekomendasikan Lantaran Beberapa Kejanggalan Ini

Vaksinasi Covid-19. Foto: YouTube/Sekretaris Presiden

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hanya karena faktor keyakinan saja, maka sejumlah anggota DPR RI menyediakan diri untuk disuntik vaksin Nusantara, Rabu (14/4/2021) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Melkiades Laka Lena yang menjabat Wakil Ketua Komisi IX DPR mengatakan, mereka mau disuntik vaksin besutan eks Menkes Terawan Agus Putranto itu hanya karena yakin.

“Karena bagus, maka kami ikut,” kata Melki, Selasa (13/4/2021).

Legislator asal Nusa Tenggara Timur ini mengaku sengaja kembali dari daerah pemilihannya untuk disuntik.

Sementar itu, di sisi lain dokumen hasil pemeriksaan tim BPOM yang salinannya diperoleh Majalah Tempo, menunjukkan adanya berbagai kejanggalan penelitian vaksin.

Misalnya tidak ada validasi dan standardisasi terhadap metode pengujian. Hasil penelitian pun berbeda-beda, dengan alat ukur yang tak sama.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto: Pembangunan Berkelanjutan Tingkatkan Kualitas Hidup

Selain itu, produk vaksin tidak dibuat dalam kondisi steril. Catatan lain adalah antigen yang digunakan dalam penelitian tidak terjamin steril dan hanya boleh digunakan untuk riset laboratorium, bukan untuk manusia.

“BPOM menyatakan hasil penelitian tidak dapat diterima validitasnya,” tertulis dalam dokumen tersebut.

Dokumen yang sama menyebutkan tak ada satu pun peneliti dari Indonesia yang bisa menjawab pertanyaan dalam pertemuan dengan Komisi Nasional Penilai Obat pada Selasa, 16 Maret lalu.

Semua pertanyaan dijawab oleh peneliti dari Aivita Biomedica Inc, yang merupakan orang asing.

Dalam bagian lain dokumen disebutkan, uji klinis terhadap subyek warga negara Indonesia dilakukan oleh peneliti asing yang tidak dapat menunjukkan izin penelitian.

Baca Juga :  Indikator: Keberhasilan Penanganan Covid-19 Jadi Modal Elektoral bagi Airlangga di 2024

Bukan hanya peneliti, semua komponen utama pembuatan vaksin Nusantara pun diimpor dari Amerika Serikat.

Penny Lukito membenarkan isi dokumen tersebut. Ia mencontohkan para peneliti bahkan tidak bisa memastikan metode dendritik yang diteliti merupakan vaksin atau terapi.

“Penelitinya tidak bisa menjawab,” kata dia.

Inisiator vaksin Nusantara, Terawan Agus Putranto dalam rapat kerja di DPR mengklaim pengembangan sel dendritik dilakukannya sejak 2015 saat menjabat Kepala RSPAD.

Ia pun mengklaim hasil penelitiannya berjalan positif.

“semua berjalan baik, membuat kami mantap.”

Muhammad Karyana, peneliti vaksin Nusantara mengatakan timnya sudah menjelaskan penelitian dan menjawab segala pertanyaan yang muncul dalam rapat dengar pendapat.

www.tempo.co