JOGLOSEMARNEWS.COM KOLOM

In Memoriam DR Sirikit Syah : Wartawati Senior & Perlawanan Kanker

Sirikit Syah. Foto : dok
Ilham Bintang. foto: dok pribadi

Catatan: Ilham Bintang*

Satu lagi sahabat pergi. Tadi pagi, Selasa ( 26/4)  di RS Islam,  Surabaya, Jawa Timur. Meski sudah sekian tahun menderita kanker, tetapi kepergian wartawati senior  Sirikit Syah (lahir di Surabaya, Jawa Timur, tahun 1960; umur 62 tahun) Surabaya, tetap saja membekaskan duka mendalam.

Sekian tahun Mbak Ikit — begitu ia akrab disapa — menderita kanker, dan rasanya sikap yang dia tunjukkan menghadapi sakit  adalah sebaik-baik sikap perlawanan terhadap penyakit ganas itu. Dia tak menyerah. Ikit tetap merawat semangat.

Ia yang sejak muda kritis, tetap bisa menjaga daya kritisnya hingga ajal menjemput. Di beberapa WAG ( WhatsApp) yang saya ikuti bersama dia sungguh perlawanan itu nyata dia lakukan.  Bahkan ketika menjalani kemo pun ia tetap melayani polemik berbagai topik yang menguji daya kritisnya. Juga kesabarannya.

Sebagai kawan seprofessi saya turut bangga Ikit tak tergelincir (itu istilah dia) berkolaborasi dengan kekuasaan, ikut tren sebagian akademisi yang tak kuat “berpuasa”  mencicipi nikmat hasil pembangunan rezim.

Belum lama Ikit malah menerima posisi sebagai anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) Jawa Timur, yang berarti pandangan-pandangan kritisnya setuju diwadahi secara formal.

 

Otak-Otak Makassar

Saya mengenal Ikit pertama kali  di Surabaya sebagai wartawan film, lebih empat puluh tahun lalu. Ikit bekerja sebagai wartawan Surabaya Post. Dia  sering mengontak saya mengajak diskusi tentang perfilman Indonesia.

Ia pun beberapa kali meliput acara   Festival Film Indonesia (FFI) yang diselenggarakan di  daerah.  Ia memang paling suka bertugas di daerah. Tugas jurnalistik maupun sebagai pengajar. Tahun lalu, ia bercerita, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, kota dambaan yang belum sempat dia kunjungi.

Pengalaman tugas di daerah mengenalkannya sekaligus dengan pelbagai kuliner khas daerah di Nusantara. Dan, kuliner Makasar yang mengesankan buat dia adalah Otak-Otak. Tahun lalu, sepulang Kemo, Ikit mengontak saya. Ia pengen sekali makan otak-otak Makassar. Saya pun kontak kemenakan di Makassar memesankan  segera mengirim penganan itu ke Ikit di Surabaya.

Pernah belasan  tahun kontak kami terputus karena kesibukan.

Namun saya mengikuti aktifitas  Ikit yang kelak dikenal melalui karya-karya sastranya berupa esai, puisi, dan cerita pendek yang dipublikasikan di sejumlah media massa.

Sirikit Syah adalah alumni Universitas Negeri Surabaya dan menjadi salah satu akademisi di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA – AWS) dan pendiri Sirikit School of Writing (SSW).

Catatan di Wikipedia, sejak usia muda Ikit memang sudah mencita-citakan menjadi guru. Itulah yang mendorongnya masuk kuliah di IKIP Surabaya pada tahun 1984. Namun setelah lulus, dia justru menekuni kariernya sebagai wartawati di Surabaya Post (1984-1990), RCTI/SCTV (1990-1996), dan The Jakarta Post (1996-2000). Di sela -sela waktu, toh masih mengabdi di dunia pendidikan dengan mengajar di Universitas Dr. Soetomo (1996-2001).

Sepulang dari London dengan gelar Master Komunikasi (2001-2002), Sirikit dipercaya mengelola Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya (STIKOSA). Di luar aktivitasnya sebagai pengajar dan wartawan, dia juga menjadi pengamat media yang cukup kritis melalui Lembaga Konsumen Media (Media Watch!) yang didirikan pada tahun 1999.

DR Hernani Sirikit MA nama lengkapnya, berhasil meraih gelar doktor Ilmu Bahasa di Universitas Negeri Surabaya dengan disertasi ” Naming and Labeling In Terrorism News Reports Published di The Jakarta Post” (2018).

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com