Beranda Umum Nasional Waspada Antraks di Gunungkidul, drh. Mirjawal: Hentikan Tradisi Brandu

Waspada Antraks di Gunungkidul, drh. Mirjawal: Hentikan Tradisi Brandu

Ilustrasi sapi kurban. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kembali ditemukannya kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul, DIY, menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis masih menjadi ancaman nyata. Empat warga yang sebelumnya dinyatakan positif antraks kini telah mendapatkan penanganan dan dinyatakan sembuh.

Namun, munculnya kembali kasus di wilayah yang memiliki riwayat antraks menunjukkan bahwa pengendalian tidak dapat dilakukan hanya saat kasus muncul, melainkan membutuhkan sistem pencegahan yang konsisten.

Calon Ketua Umum PB PDHI, drh. Mirjawal, M.M., menilai Gunungkidul memiliki karakteristik sebagai wilayah endemik sehingga membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan.

“Gunungkidul sudah endemik antraks. Ini adalah alarm bahwa sistem surveilans, pencegahan, edukasi masyarakat, pengawasan lalu lintas ternak, dan vaksinasi di wilayah endemis harus terus diperkuat,” ujar drh. Mirjawal, Kamis (2/10/2026).

Baca Juga :  Saor Siagian Desak KPK Jemput Paksa Nusron Wahid: Janji Kooperatif Cuma Omong Kosong

Menurutnya, antraks merupakan penyakit yang harus ditangani dengan pendekatan One Health, karena kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan lingkungan saling berkaitan.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menghentikan praktik brandu, yaitu membagikan atau menjual dengan harga murah daging ternak yang sakit atau mati mendadak, karena dapat menjadi jalur penularan dari hewan ke manusia.

Ia juga mendorong pengawasan lebih ketat terhadap lalu lintas ternak, isolasi padukuhan terdampak, pengawasan pasar hewan, serta penguatan check point antar daerah.

“Kita harus memastikan jangan sampai ternak dari wilayah tertular berpindah ke wilayah lain sebelum status kesehatannya jelas. Pengawasan lalu lintas ternak adalah bagian penting dari biosekuriti nasional,” katanya.

Masyarakat juga diminta tidak membuka bangkai hewan yang dicurigai antraks karena Bacillus anthracis dapat membentuk spora dan bertahan lama di lingkungan.

Baca Juga :  Pertalite Disedot untuk Dijual Mahal, Solar Subsidi 300 Liter Ditimbun di Bali

“Pesan saya sederhana: jangan panik, tetapi jangan abai. Jika ada ternak sakit atau mati mendadak, jangan dipotong dan jangan dikonsumsi. Segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan,” tutupnya. *

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.