loading...
Loading...
Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi saat memberikan terapi psikis salah satu siswi SD di Gemolong yang diduga menjadi korban pencabulan. Foto/Wardoyo

SRAGEN– Pihak Polres Sragen mengaku belum bisa serta merta menangkap oknum guru di sebuah SD di Desa Kalangan,  Kecamatan Gemolong berinisial SW (55) yang diduga melakuka pencabulan terhadap sejumlah siswinya. Pasalnya saat ini tim masih mengintensifkan pendalaman data dan keterangan dari para saksi pengadu termasuk salah satu siswi, sebut saja Mawar (11) yang mengadukan kasus itu ke Polres sepekan silam.

Kapolres Sragen,  AKBP Arif Budiman melalui Kasat Reskrim,  AKP Yuli Monasoni membenarkan pihaknya sudah mengetahui kasus itu. Namun menurutnya kasus itu baru sebatas aduan dari salah satu korban yang datang ke Polres beberapa waktu lalu.

Sebagai tindaklanjut,  tim penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim sudah melakukan pendalaman dan permintaan keterangan.

“Tapi kendala kita,  kondisi korban masih trauma berat dan sementara masih agak tertutup. Orangtua korban juga menyampaikan bahwa korban masih agak trauma sehingga belum bisa kita mintai keterangan secara menyeluruh, ” paparnya Senin (26/2/2018).

AKP Yuli menguraikan guna mengusut tuntas kasus itu,  penyidik juga sudah berkoordinasi dengan Pemkab. Ia juga menekankan mengingat korban masih di bawah umur dan masih trauma, penyidik juga tetap mempertimbangkan sisi privacy dan kondisi psikis korban.

Baca Juga :  Razia Besar-Besaran di Lapas Sragen, Petugas Temukan Ada Napi Sembunyikan Senjata Tajam dan Kartu Remi

“Enggak bisa dipaksa juga kan. Karena kondisi psikis korban juga masih belum mau terbuka. Makanya kami menunggu sampai korban bisa dimintai keterangan, ” jelasnya.

Perihal keterangan dari Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) yang menyampaikan jumlah korban diperkirakan 13 siswi,  Yuli mengaku belum bisa berkomentar. Pihaknya masih menunggu hasil pendalaman dan penyelidikan terlebih dahulu.

Sebelumnya, Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen,  Sugiarsi,  Sabtu (24/4/2018) mengatakan dari keterangan korban sebut saja Mawar (11), aksi tak senonoh yang dilakukan gurunya itu dialami juga oleh korban lain. Pasalnya kasus pencabulan itu disebut dilakukan pelaku sejak 2010 hingga sekarang.

“Diperkirakan ada 13 siswi yang menjadi korban. Dari keterangan ibu korban saat kami terapi kemarin,  banyak yang sudah dibegitukan. Ada 13an anak.  Bahkan ada yang sudah lulus dan kerja juga, ” papar Sugiarsi.

Ketidakberanian korban untuk melapor karena takut dan malu,  adalah faktor yang kemudian membuat pelaku makin ketagihan dan melakukannya ke siswi.

Menurut Sugiarsi,  perbuatan bejat guru itu dilakukan di sekolahan dan makin liar karena dilakukan di kamar mandi sekolah,  di kelas bahkan di setiap tempat yang ada celah kesempatan ia melakukan.

Baca Juga :  Sering Malak Pengendara, 7 Gerombolan Punk Diciduk Satpol PP Sragen. Tiga Diantaranya Cewek dan Sudah Punya Anak 

“Nggak pandang lokasi dan waktu. Kata korban di mana ada kesempatan di situ pelaku melakukan pencabulannya, ” terangnya.

Bahkan saking traumanya dan nggak tahan menjadi pelampiasan nafsu bejat sang guru, Bunga akhirnya memilih berhenti sekolah sejak tahun 2018 ini. Padahal siswi manis itu sudah duduk di kelas V dan tinggal satu tahun lagi menamatkan bangku SD.

Atas kasus itu,  Sugiarsi mendesak Polres Sragen segera bertindak tegas. Sebab hingga kini pelaku masih belum ditahan.

“Takutnya korbannya makin banyak. Sementara yang mau lapor ke kami sudah ada tiga korban, ” jelasnya.

Kapolres Sragen,  AKBP Arif Budiman mengatakan saat ini masih dilakukan pendalaman dan penyelidikan atas kasus tersebut. Wardoyo

Loading...