JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Mengapa  Koruptor Bermunculan Bak Jamur di Musim Hujan? Ini Kata Kata Kapolri

Ilustrasi/Tribunnews

JAKARTA –  Ada warna baru dalam Pilkada tahun ini. Sayangnya, warna tersebut cenderung hitam.  Pasalnya, ada beberapa calon kepala daerah yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi. Mengapa  itu bisa terjadi, ini kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Menurut Tito, biaya Pilkada yang terlalu tinggi menjadi salah satu pemicu lahir dan maraknya calon-calon koruptor baru. Menurut pandangannya, sistem ini melahirkan calon-calon koruptor.

Ia pun mengatakan tak akan ada yang berani menjadi bupati hingga gubernur lantaran gaji yang diterima selama 5 tahun menjabat tak setara dengan biaya yang dikeluarkan saat kampanye.

Baca Juga :  Bawaslu: 40 Balon Kepala Daerah Positif Covid-19, Tapi Nekat ke KPU

“Jadi bupati kalau nggak (punya) Rp 30 sampai Rp 40 miliar, nggak berani. Jadi gubernur kalau di bawah Rp 100 miliar nggak berani,” ujar Tito di Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (27/3/2018).

Dengan seperti itu, Tito merasa sistem saat ini sama saja dengan menggiring serta menciptakan para koruptor. Ia juga menilai perlunya pengamatan pada calon kepala daerah petahana, karena dimungkinkan ada modus-modus operandi kecurangan saat pilkada.

Baca Juga :  Polisi Bekuk 4 Pelaku Penipuan Berkedok Lelang di Instagram, Kaesang Pangarep Nyaris Jadi Korban

Di antaranya petahana melakukan intervensi terhadap aparatur sipil negara atau pegawai negeri sipil (ASN/PNS). Contohnya, melalui anggaran KPUD, calon petahana dapat ‘memainkan’ anggaran untuk penyelenggaraan pemilu.

“Pemda kita harapkan netral dan berikan anggaran. Ini pun anggaran bisa tarik-menarik. Yang kira-kira punya mau dukung, apalagi kalau petahana-petahana. ‘Dukung saya nggak? Kalau dukung, pengajuan kamu 100 persen saya penuhi,” katanya.

www.tribunnews.com