JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Satu Pengedar Narkoba Lintas Provinsi Tewas Ditembus Timah Panas, Satu Ditangkap di Stasiun Tawang

Ilustrasi/Tribunnews

SEMARANG – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng menangkap empat tersangka jaringan pengedar narkotika jenis sabu lintas provinsi.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru menyebut, empat tersangka merupakan pengedar jaringan Palembang – Jakarta – Tegal – Purwokerto – Semarang – dan Surabaya.

Satu di antara tersangka bernama Nurul Imam (29) pun tertangkap tangan di Stasiun Tawang Semarang setelah diketahui membawa sabu seberat 1,2 Kg dari Surabaya. Imam tertangkap oleh petugas BNNP Jateng Kamis (12/4) lalu.

“Dia perjalanan dari Surabaya via kereta Argobromo Anggrek. Sabu itu dimasukkan pada tumpukan makanan di dalam kardus. Isinya ada 12 paket ternyata,” ucap Brigjen Pol Tri Agus, saat jumpa pers, Selasa (17/4/2018) di Kantor BNNP Jateng.

Menurut Tri Agus, rencananya tersangka Imam akan berangkat lanjut ke Pekalongan karena merupakan warga domisili sana. Imam dikendalikan dari penghuni Lapas Pekalongan oleh napi bernama Budi Suprianto.

“Budi sudah tiga kali memerintahkan Imam untuk mengambil barang berupa sabu di Surabaya. Sekali upah jalannya seharga Rp 7 juta. Kalau yang ketiga ini belum dibayarkan. Ini rencananya mau diedarkan juga di wilayah Jateng,” bebernya.

Sementara itu, Kabid Berantas BNNP Jateng AKBP Suprinarto mengatakan, tersangka Imam ini sempat tidak kooperatif saat sudah tertangkap tangan.

“Sewaktu digiring masuk ke mobil, tersangka ini (Imam) malah melarikan diri. Kami berikan tembakan peringatan pun tidak digubris, akhirnya kami tembak kakinya lalu dibawa ke RS Bhayangkara Semarang,” ucap AKBP Suprinarto.

Baca Juga :  Inilah Inovasi dan Spirit Perajin Batik di Juwana Hadapi Pandemi Covid-19

Ia menjelaskan bahwa Budi juga memilik keterkaitan dengan dua kurir atau pengedar lainnya di Kebumen dan Cilacap. Dua tersangka itu bernama Tri Yuwono yang ditangkap di Kebumen pada Minggu (15/4/2018) dan Arianto diringkus di Cilacap, Senin (16/4/2018).

“Punya keterkaitan. Budi mengendalikan Imam dan Tri yang merupakan kurir. Tapi di antara para kurir tidak saling mengenal. Budi mengendalikan mereka lewat handphone saja,” lanjut Suprinarto.

Menurutnya, Tri mendapat sabu seberat 2 Kg berasal dari Palembang.

“Tri tertangkapnya di Kebumen. Dia berangkat dari Yogyakarta ke Palembangnya via pesawat untuk mengambil sabu. Setelah itu, tersangka naik bus ke Kebumen dan tertangkap tangan di sana. Pergerakan Tri kami ketahui karena ada pengakuan dari Budi,” paparnya.

“Dari Palembang, naik ke Jakarta. Dari sana terus lanjut ke Tegal. Terus naik bus lagi ke Purwokerto hingga tiba di Kebumen,” tambah Pri.

Rencananya, sabu 2 Kg yang dibawa Tri akan diberikan ke Arianto di Cilacap. Namun sejauh ini, pihak BNNP Jateng belum mengetahui rencana Arianto akan mengantarkan sabu 2 Kg itu ke mana. Sebab, saat Arianto tertangkap tangan oleh petugas BNNP Jateng, ia malah berusaha melarikan diri dan tidak kooperatif.

Baca Juga :  Gubernur Jateng Minta Penderita Diabetes dam Hipertensi Tetap di Rumah Saja

Akhirnya Arianto tewas tertembak setelah mengabaikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali oleh petugas BNNP Jateng.

Kepala BNNP Jateng, Tri Agus Heru mengungkapkan, selama periode Januari hingga pertengahan April 2018 BNNP Jateng telah menyita 6,2 kilogram sabu dari peredaran.

“Sebagian sudah dimusnahkan, yang lain menyusul,” terang Tri Agus Heru.

Sedangkan yang teranyar adalah pengungkapan dariempat tersangka di atas, dengan barang bukti mencapai 3,2 kilogram.

“Pengungkapan yang terakhir menunjukan bahwa ternyata memang sabu masih banyak beredar di Indonesia. Saya kira tidak ada daerah yang benar-benar bersih karena di pinggiran juga ditemukan barang haram ini,” terang Tri Agus.

Ia membeberkan Kota Surakarta menjadi yang paling tinggi menyumbang hasil tangkapan BNNP Jateng. Tri Agus tidak menyebut secara rinci, namun menurutnya di sana yang paling banyak.

“Kalau kita lihat wilayah selatan memang lebih rawan, kami bisa sampaikan Surakarta peringkat pertama dalam hal pengungkapan, lebih banyak dari sana dibanding wilayah lain di Jateng,” bebernya.

Meski demikian ia tidak akan menjadikan data tersebut sebagai patokan. Karena menurutnya peredaran narkotika bisa kemanapun bahkan hingga di wilayah desa.

“Yang terpenting petugas kami, bidang brantas ini harus terus komitmen untuk memberantas narkotika,” tandasnya. #  Tribunnews