loading...


Tribunnews

JOGJA  –  Kraton Yogyakarta mewisuda sebanyak 324 abdi dalem  Selasa (3/7/2018). Prosesi wisuda tersebut berlangsung di Bangsal Kesatriyan kompleks Kkraton Yogyakarta. Jumlah tersebut terdiri dari 246 orang abdi dalem Punakawan dan 78 Keprajan.

Wakil Penghageng Tepas Tandha Yekti, KPH Yudha Hadiningrat  mengatakan bahwa di antara abdi dalem yang diwisuda, terdapat KPH Notonegoro, suami GKR Hayu, yang kini menyandang Penghageng Kawedanan Hageng Krido Marsono, serta Sekda Bantul, Riyantono, sebagai abdi dalem keprajan.

“Ada yang naik pangkat, kemudian ada juga abdi dalem baru. Dari sejumlah abdi dalem yang magang, hari ini diangkat 92 orang,” katanya.

Ia menjelaskan, mereka yang diangkat sebagai abdi dalem Keprajan, beberapa di antaranya merupakan kepala desa dari Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul. Sedangkan abdi dalem Punakawan banyak yang berasal dari kalangan penari, atau sarjana seni.

Baca Juga :  Berpacu dengan Gadget, BPAD DIY Gelar Roadshow  Minat Baca di Desa-desa

“Di samping bertugas menari, jika ada tamu, atau event, seperti grebek, labuhan, atau diundang ke luar negeri atau daerah lain, mereka yang dibawa untuk menari. Makanya, setiap minggu ada latihan rutin, pelatihnya ya penari senior Kraton,” jelasnya.

“Tidak kalah menarik, selain sarjana seni, dalam wisuda kali ini juga ada beberapa abdi dalem bergelar sarjana sosiologi dan antropologi,” tambah KPH Yudha Hadiningrat.

Wisuda abdi dalem di lingkungan Kraton Yogyakarta sendiri dilangsungkan dua kali dalam satu tahun, yakni setiap bulan Syawal dan Bakda Mulud. Dari dua prosesi tersebut, hari yang dipilih selalu sama, yaitu pada Selasa Wage.

Baca Juga :  Dua Seniman  Lukis Ini  Ditangkap Polisi  Karena Miliki Tanaman Ganja Siap Panen

Dalam prosesi kali ini, Penghageng Kawedanan Ageng Panitro Puro, GKR Condrokirono, didapuk mewisuda para abdi dalem.

Sementara surat kekancingan bagi abdi dalem Punakawan dan Keprajan, masing-masing diserahkan oleh KPH Wironegoro dan GKR Hayu. GKR Condrokirono, melalui KPH Yudha Hadiningrat, dalam sambutannya, berpesan bahwa abdi dalem merupakan abdi budaya Kraton Yogyakarta, sekaligus abdi Sri Sultan yang bertahta. Sehingga, perilaku dan perbuatannya harus senantiasa dijaga.

“Hendaknya, abdi dalem selalu menjaga budaya dan nama baik Kraton Yogyakarta, serta Ngarsa Dalem. Jangan sampai memalukan di luar tatanan Kraton. Harus selalu bertindak lurus, leres dan laras,” pungkasnya.  

Baca Juga :  Kepencut Gerobak Sapi Kustom, SBY Pun Rela Rogoh Kocek Rp 40 Juta

www.tribunnews.com

Loading...