loading...
Loading...
Ilustrasi/Tribunnews

JAKARTA  – Perang urat syaraf  menjelang Pilpres 2019 pun kian ramai dan memanas. Apapun bisa digunakan sebagai senjata untuk menyerang lawan, salah satunya data kemiskinan. Sebelumnya, Prabowo dan SBY secara kompak mengkritik tingginya angka kemiskinan di Indonesia belakangan ini.

Menanggapi kritik tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan akhirnya angkat bicara. Ia balik menyindir sejumlah pihak yang tidak yakin dengan data kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS).

“Saya ingin garis bawahi ya. Buat kalian yang muda-muda, kita itu baiknya eloknya melihat data, jadi kita jangan menceritakan rumor,” kata Luhut di acara Afternoon Tea di kantornya, Rabu (1/8/2018).

Pernyataan Luhut itu untuk menanggapi kontroversi soal data kemiskinan yang sering kali menjadi komoditas politik. Belakangan ini tercatat Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mempersoalkan data tingkat kemiskinan dan jumlah orang miskin yang dirilis Badan Pusat Statistik pada pertengahan Juli lalu.

Luhut mengatakan, BPS selama ini bekerja secara independen dan menjadi sumber data yang valid. “Jadi tidak mungkin lah kita berbohong bahwa kemiskinan single digit itu baru zamannya Presiden Jokowi,” tuturnya.

Baca Juga :  Kapolsek Kebayoran Baru Dicopot dari Jabatan Karena Simpan Sabu

Lebih jauh Luhut juga meminta semua pihak untuk bersikap legowo. “Jangan malu ngakuin. Atau karena beliau (Jokowi) hanya mantan walikota sama mantan gubernur, yang lain mantan apa, nyatanya beliau bisa men-deliver, ya itu harus diakui,” katanya.

Luhut juga berpesan pada pihak-pihak yang berseberangan pendapat itu tetap rasional dan mendidik yang muda-muda untuk belajar, bicara secara gentlemen, secara kesatria.

“Jangan plin-plan, kiri kanan tidak jelas,” ucapnya.

Sebelumnya BPS mengumumkan per Maret 2018 tingkat kemiskinan mencapai 9,82 persen. Angka kemiskinan itu turun dalam lima tahun terakhir dan akhirnya menembus single digit.

Tahun ini, penduduk di bawah garis kemiskinan turun hingga 633,2 ribu orang. Jika dibandingkan dengan tahun 2017 jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan mencapai 26,58 juta orang, per Maret 2018 penduduk miskin berjumlah 25,95 juta orang.

Baca Juga :  Pilot Garuda Gadungan Coba Tipu Rp 20 Juta, Akhirnya Ketahuan dan Diringkus Polisi

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebelumnya mengklaim tingkat kemiskinan di Indonesia naik 50 persen dalam lima tahun terakhir. Ia menyebut Indonesia menjadi tambah miskin dalam lima tahun ini. Hal itu juga ditambah dengan mata uang rupiah yang terus melemah.

Sedangkan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui akun Twitter @SBYudhoyono kemarin menyebutkan kemiskinan di Indonesia cukup tinggi jika menggunakan standar dari Bank Dunia. Lembaga internasional tersebut memiliki kategori bahwa mereka yang memiliki penghasilan di bawah US$ 2 per hari atau sekitar Rp 864.00 per bulan adalah kelompok masyarakat miskin.

 

Dengan demikian, kata SBY, lebih dari 40 persen atau sekitar 100 juta masyarakat Indonesia berada di kelompok ini. Polemik muncul karena pada pertengahan bulan lalu Badan Pusat Statistik merilis bahwa tingkat kemiskinan Indonesia 9,82 persen atau terendah dalam sejarah. Belakangan Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa data BPS adalah valid adanya.

www.tempo.co

Loading...