loading...
Loading...
Ilustrasi dikucilkan

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus dugaan ancaman dan intimidasi pemilih Pemilu 2019 di Dukuh Piji, Glonggong, Gondang, bergulir makin panas. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menyampaikan jumlah terduga pelaku yang dilaporkan dan diperiksa dalam kasus itu ada tiga orang.

Ketua Bawaslu Sragen, Dwi Budhi Prasetyo mengatakan dalam kasus itu, terlapornya ada tiga. Selain oknum PNS sekaligus Ketua KPPS Piji berinisial WT (48), ada dua orang lagi yang turut dilaporkan.

Keduanya diduga adalah tokoh dukuh Piji yang terindikasi kader PDIP. Menurutnya, ketiga terlapor juga sudah diperiksa dan dimintai keterangan dua hari lalu di Bawaslu Sragen.

“Terlapornya ada tiga orang. Oknum PNS Ketua KPPS dan ada dua orang lain. Kelihatannya memang iya (kader),” paparnya kepada wartawan.

Dari hasil klarifikasi di Bawaslu, ketiga terlapor tak mengelak memang mendatangi rumah korban, MK dan PM pada malam sebelum coblosan Pemilu, Selasa (16/4/2019). Yang pertama dua orang terlapor disusul oknum PNS Ketua KPPS.

“Yang oknum itu datang kedua jam 23.00 WIB. Katanya itu memang pemuda atas inisiatif pemuda mereka mendatangi rumah ke rumah. Tidak hanya ibu MK dan PM saja, tapi pengakuannya semua dusun didatangi. Ada sekitar 20an yang keliling malam itu,” urai Dwi.

Baca Juga :  Siap-siap, Sebentar Lagi Yang Tak Punya Kartu Miskin Dilarang Beli Gas Elpiji 3 KG Warna Hijau Melon!

Perihal ancaman dan paksaan untum memilih PDIP dan calon PDIP jika tidak mau akan diboikot seluruh warga, Dwi mengatakan saat diklarifikasi, terlapor mengakui dua kali mendatangi korban.Terlapor menyebut tidak merasa memaksa.

“Bilangnya memang minta suara untuk PDIP. Tapi katanya tidak ada paksaan, kalau nggak mau yang penting sudah didatangi,” terang Dwi.

Keterangan terlapor itu bertolak belakang dengan keterangan korban dan saksi-saksi. Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, korban mengatakan dua kali didatangi oleh para pelaku sembari diancam jika tak mau memilih sesuai arahan mereka.

“Yang pertama datang dua orang kelihatannya kader. Datang jam 22.00 WIB malam sebelum coblosan (Selasa, 16/4/2019). Waktu itu datang dan bilang pokokne njaluk suara nggo PDIP. Lalu dijawab ngapunten kula mpun duwe pilihan piyambak (maaf, saya sudah punya pilihan sendiri). Lalu langsung pulang sambil bilang awas gitu,” ujar NO, kerabat MK, seusai mendampingi MK memberikan keterangan di Bawaslu Sragen kemarin.

NO yang juga mengetahui kejadian pengancaman itu kemudian menceritakan setelah kedua orang itu pulang, datang WT (48) oknum PNS sekaligus Ketua KPPS di Dukuh Piji ke rumah MK.

WT datang dengan maksud kembali ngegas agar MK dan keluarga bisa mengikuti memilih sesuai arahannya. Namun permintaan itu kembali dijawab dengan halus oleh korban bahwa ia sudah punya pilihan sesuai hati nuraninya sendiri.

  1. “Lalu Pak WT bilang kowe kan duwe anak wis gedhe. Ngko nak mantu ora arep dibantu piye. (Kamu kan punya anak sudah besar, nanti kalau punya hajat tidak akan dibantu gimana). Bilangnya ya agak keras lalu terus pergi,” tutur NO.
Baca Juga :  Tewaskan Satu Warga, 70 Sarang Tawon Vespa di Sragen Dimusnahkan. Dua Warga Sempat Tersengat, Satu Dilarikan ke Rumah Sakit

Ia juga memastikan jika kedatangan tiga orang termasuk oknum Ketua KPPS dan PNS itu memang meminta dan mengarahkan untuk memilih PDIP dan Caleg tertentu dari PDIP.

Tak hanya ke MK, perlakuan serupa ternyata juga dilakukan WT dan beberapa kader ke PM, janda yang tinggal tak jauh dari rumah MK.

PM yang tinggal menumpang di rumah kerabatnya itu juga mengalami perlakuan yang sama dan ditekan agar memilih sesuai arahan WT. Wardoyo

Loading...