loading...

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi virus Corona atau Covid-19 memaksa kegiatan belajar mengajar (KBM) para siswa dilakukan secara online dari rumah.

Instruksi dari pemerintah yang bersifat darurat, diakui Kepala SD Marsudirini Surakarta, Fransisca Romana Sri Lani SPd sempat membuat para guru kelabakan.

“Kami tanpa persiapan waktu itu. Apalagi terjadi saat anak-anak kelas 6 mau ujian,” ujarnya saat bincang-bincang dengan Joglosemarnews.

Ditambah kelas 1-5 baru menyelesaikan PTS II, lanjut Sisca, mau tidak mau guru harus memberikan tugas secara online via WAG orangtua siswa.

Meski tetap dapat berlangsung, namun diakui Sisca, ada juga beberapa kesulitan dan kendala dialami oleh guru dan orangtua siswa.

Salah satu kesulitan yang dirasakan, menurut Sisca, yakni penyampaian materi yang membutuhkan penjelasan. Misalnya untuk pelajaran Matematika, guru mengaku sangat kesulitan.

“Banyak orang tua yang juga kesulitan menjelaskan agar dapat dipahami anak,” bebernya.

Sisca mengakui, model pembelajaran online seperti itu memang sempat memantik keluhan dari orangtua siswa. Selain kesulitan menjelaskan materi kepada anak, mereka juga mengeluhkan besarnya pengeluaran untuk membeli pulsa demi mengupdate pembelajaran dari guru.

Baca Juga :  Mendikbud Bakal Segera Umumkan Protokol Belajar di Sekolah Selama Pandemi

“Guru sendiri juga repot, karena harus rajin-rajin meng-update pembelajaran ke anak via WA Ortu. Juga harus rajin membuka dan membaca WAG Ortu untuk menerima balasan hasil kerja anak,” tambah guru SD Marsudirini Surakarta, Astit Renggani, SPd.

Saat memberi penilaian, lanjut Astit, guru juga mengalami kesulitan karena tugas dikerjakan di rumah. Pasalnya, bisa terjadi hasil yang dikumpulkan kemungkinan bukan murni hasil kerja anak sendiri, meski pada dasarnya guru sudah mengatahui potensi masing-masing anak sejak awal.

Untung saja, ujar Astit, instruksi dari pemerintah, sekolah tidak harus memaksakan pencapaian target berupa nilai kuantitatif saja. Tetapi juga lebih mengedepankan kreativitas yang menggembirakan anak-anak, tidak menambahi beban anak dan Ortu dengan tugas-tugas yang berat.

“Itu yang membuat kami para guru lebih fleksibel dalam mengolah nilai baik untuk kenaikan kelas maupun untuk kelulusan,” ujarnya.

Sementara itu, untuk mengobati rasa kangen guru ke anak-anak, mereka membuat video berisi pesan-pesan moral/motivasi.

“Demikian juga, anak-anak kami minta mengirimkan foto-foto mereka ketika di rumah atau mengirimkan video ketika mereka mengerjakan tugas. Itu cukup bisa mengobati rasa kangen kami pada anak-anak,” papar Astit.

Baca Juga :  Hima PGSD Unisri Bantu Sembako untuk Warga Terdampak Covid-19

Selanjutnya, ujar Astit, tugas-tugas yang diberikan guru pada anak ataupun video terkait tugas pembelajaran secara berkala, dikirimkan ke Korwil lewat Pengawas Sekolah masing-masing dalam wujud print out dan online.

Kepala SD Marsudirini Surakarta, Fransisca Sri Lani SPd mengatakan, kurangnya jam tatap muka, memang menyulitkan guru untuk melihat umpan balik dan daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan.

Di samping itu, materi materi pelajaran tidak bisa tersampaikan secara penuh sesuai muatan kurikulum, sehingga mengurangi penguasaan materi yang seharusnya diterima siswa.

“Dampaknya, sekolah memang harus menurunkan standar kenaikan atau kelulusan siswa,” bebernya.

Di samping itu, kemurnian nilai siswa tidak dapat dilihat dengan jernih, karena peran orangtua di rumah. Anak juga dapat mengerjakan tugas-tugas dengan membuka buku, sehingga tidak bisa melihat kemampuan siswa secara murni.

Karena itu, Sisca berharap cobaan ini cepat berlalu, dan siswa kembali bersekolah dan bertatap muka langsung dengan guru.

“Teknologi memang penting untuk membantu dalam keadaan darurat seperti ini, tapi pelajaran dengan tatap muka langsung lebih baik,” ujar Sisca. suhamdani