JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Covid-19 Bisa Menular Lewat Udara, Ini Saran Pakar Hadapi Virus Corona

Ilustrasi melawan virus corona. Pixabay/Ahmad Triyawan
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui adanya bukti yang menunjukkan peluang penularan Covid-19 melalui udara.

Hal tersebut menyusul desakan dari 239 ilmuwan di seluruh dunia yang mengirim surat terbuka kepada WHO dengan disertai bukti-bukti baru terkait penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Dikutip Tempo.co, bukti ilmiah menunjukkan virus Corona jenis baru yang dapat terbang selama berjam-jam bersama butiran kecil air atau aerosol di udara stagnan dan dapat menginfeksi orang yang menghirupnya.

Risiko penularan melalui udara meningkat di ruangan tertutup yang padat dengan ventilasi yang buruk. Hal itu dapat menjelaskan terjadinya penyebaran cepat yang dilaporkan di pabrik, rumah ibadah, atau restoran.

Linsey Marr, ahli aerosol dari Virginia Tech, menyebut aerosol dilepaskan bahkan ketika seseorang tanpa gejala mengembuskan napas, berbicara, atau bernyanyi.

Linsey bersama dengan sekitar 200 orang ahli lainnya telah menjabarkan bukti kuat tentang hal ini kepada WHO.

Melansir New York Times, berikut sejumlah pertanyaan dan jawaban seputar virus corona yang dirangkum dari penelitian terbaru.

Apa artinya virus ditularkan melalui udara?
Virus yang ditularkan melalui udara berarti virus dapat dibawa melalui udara dalam bentuk yang layak.

Dalam sebagian besar patogen, ini adalah skenario yang mungkin untuk beberapa jenis virus dan tidak mungkin bagi yang lain.

Misalnya HIV, yang terlalu halus untuk bertahan hidup di luar tubuh dan tidak mengudara. Beda dengan virus campak yang dapat bertahan di udara dan sangat berbahaya, bahkan bisa bertahan hingga 2 jam di udara terbuka.

Baca Juga :  3 Warga Sragen Positif Covid-19 Berhasil Sembuh dan Dibolehkan Pulang. Salah Satunya Tenaga Medis Putri Pegawai SMKN 1 Kedawung, Total 63 Pasien Sembuh

Sementara itu, virus corona memiliki karakteristik yang lebih rumit. Para ahli sepakat virus ini tidak melakukan perjalanan jarak jauh tetapi tetap hidup di luar ruangan. Akan tetapi, bukti menunjukkan virus dapat melintasi panjang ruangan dalam sebuah set eksperimental laboratorium.

Apakah beda aerosol dengan tetesan (droplet)?
Aeorosol dan tetesan tidak berbeda kecuali dalam ukuran. Para ilmuwan terkadang menyebut tetesan berdiameter kurang dari 5 mikron sebagai aerosol.

Pada masa awal pandemi, WHO dan organisasi kesehatan lain telah memfokuskan penelitian pada kemampuan virus untuk menyebar melalui tetesan besar yang dikeluarkan ketika orang yang bergejala batuk atau bersin.

Tetesan itu relatif berat dan jatuh dengan cepat ke permukaan yang mungkin disentuh orang lain. Ini mengapa lembaga kesehatan merekomendasikan menjaga jarak fisik dan sering mencuci tangan.

Tapi kini para ilmuwan menemukan virus dapat menyebar dalam bentuk aerosol yang lebih kecil dan ringan sehingga bisa bertahan lama di udara, terutama ketika tidak ada udara segar atau dalam ruangan tertutup.

Lalu apakah jaga jarak dan cuci tangan tak lagi efektif?
Jarak fisik masih sangat penting. Semakin dekat dengan orang yang terinfeksi, semakin banyak aerosol dan tetesan yang mungkin terpapar pada tubuh kita. Sementara, sering-sering mencuci tangan masih menjadi langkah yang sangat baik.

Baca Juga :  Serentak, Begini Kiprah 3 Pilar di Wonogiri yang Bersinergi Memutus Mata Rantai Penyebaran COVID-19

Namun dua hal itu belum cukup. Yang tidak kalah penting adalah selalu mengenakan masker di luar rumah atau di kerumunan maupun ruang tertutup.

Apakah perlu mengenakan masker medis?
Petugas kesehatan perlu memakai masker seperti N95, yang menyaring sebagian besar aerosol. Saat ini, mereka disarankan untuk melakukannya hanya ketika terlibat dalam prosedur medis tertentu yang dianggap dekat dengan sumber-sumber infeksi.

Sementara bagi masyarakat umum, masker wajah akan dapat megurangi risiko selama kebanyakan orang juga memakainya. Ketika berada di rumah, kita tidak memerlukan masker tetapi harus tetap berhati-hati.

Sedangkan untuk berapa lama kita bisa aman dalam sebuah ruangan tertutup, masih sulit dijawab karena ada banyak faktor yang mempengaruhi, seperti apakah ruangan terlalu ramai dan sirkulasi udaranya berjalan dengan baik.

Apa yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko?
Sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar ruangan, ke tempat publik, atau terlalu lama di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.

Tetap kenakan masker dan menjaga jarak fisik dengan orang lain. Saat harus berada di dalam ruangan, buka jendela atau pintu untuk menambah sirkulasi udara.

Jika memungkinkan bisa gunakan filter di sistem pendingin ruangan.

Para ahli juga memperingatkan untuk meminimalkan waktu di dalam ruangan tertutup dengan banyak orang tetapi tidak menggunakan masker. Semakin lama kita menghabiskan waktu di dalam, semakin besar dosis virus yang mungkin akan terhirup.

www.tempo.co