JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Merapi Alami Penggembungan, Pakar Minta Warga tak Panik

Ilustrasi erupsi Gunung Merapi. Foto: Twitter/ BPPTKG

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Gunung merapi di perbatasan Jateng dan DIY mengalami penggembungan. Menanggapi hal tersebut Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM, Dr. Agung Harijoko, meminta masyarakat tidak panik. Namun, ia meminta masyarakat tidak pula kendurkan kewaspadaan.

“Tetap tenang dan jangan panik, ikuti arahan dan patuhi rekomendasi yang disampaikan oleh BPPTKG atau BPBD setempat,” kata Agung, Sabtu (18/7/2020).

Ia berharap, masyarakat terus memantau informasi terkait Gunung Merapi dari sumber-sumber yang kredibel baik melalui website maupun media sosial BPPTKG. Terlebih, Gunung Merapi sendiri masih berstatus waspada atau level II.

Menurut Agung, status itu menunjukkan belum ada peningkatan potensi bahaya dari aktivitas Gunung Merapi. Artinya, ancaman bahayanya masih berada pada radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Baca Juga :  Lagi, Merapi 12 Kali Lontarkan Guguran Lava Pijar dengan Jarak Luncur 1,2 Km

“BBPTKG menyatakan ada penggembungan di tubuh Merapi yang mengindikasikan ada magma yang bergerak di dalamnya, tapi masih lebih kecil dibanding deformasi sebelum erupsi 2010,” ujar Dosen Teknik Geologi UGM tersebut.

Agung menjelaskan, pergerakan magma itu bisa berlanjut erupsi, bisa juga tidak berlanjut erupsi. Bila erupsi, maka kemungkinan bisa berupa erupsi efusif yang membentuk kubah lava atau erupsi eksplosif dengan letusan kuat.

“Erupsi Merapi bukan baru saja terjadi, tapi sudah berlangsung lama yakni sejak keluarnya kubah lava pada 2018 lalu,” kata Agung.

Ia menekankan, BPPTKG tentu terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas Merapi dengan baik. Namun, Agung merasa, masyarakat perlu mengetahui bahaya yang ditimbulkan dari erupsi gunung api sebagai satu upaya mitigasi bencana.

Baca Juga :  Ada Fenomena Sirkulasi Siklonik pada 24-28 Februari, BMKG Peringatkan Warga Yogyakarta dan Gunung Kidul Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang

Bahaya utama saat terjadi longsoran kubah dengan volume besar terbentuknya awan panas atau yang dikenal masyarakat Jawa dengan sebutan wedhus gembel. Ada pula ancaman abu vulkanis yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan.

“Saat terjadi hujan abu, masyarakat diharapkan memakai masker untuk mencegah partikel-partikel abu halus terhirup ke tubuh,” ujar Agung.

Setelah erupsi berakhir, masyarakat perlu waspadai ancaman lahar dingin saat musim penghujan. Curah hujan dengan intensitas tinggi akan membawa material vulkanis dari letusan gunung yang berada di lereng gunung atau hulu.

www.republika.co.id