JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Ramai Diperbincangkan, Ini 6 Fakta Happy Hypoxia, Gejala Covid-19 yang Wajib Diwaspadai dan Mematikan

Ilustrasi pandemi Covid-19. Foto: pixabay.com

JOGLOSEMARNEWS.COM Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda bakal mereda. Bahkan kini, gejala yang ditimbulkannya kian beragam. Salah satu gejala Covid-19 yang tengah ramai diperbincangkan adalah Happy Hypoxia. Apakah itu?

Happy Hypoxia bisa muncul tanpa gejala dan dapat berakibat fatal jika tak segera ditangani. Happy Hypoxia ini ditemukan banyak terjadi pada pasien COVID-19 tanpa gejala atau OTG.

Adanya gejala baru ini membuat orang harus waspada setiap saat. Gejala Happy Hypoxia seringkali tidak muncul, sehingga orang-orang tetap berkegiatan seperti biasa.

Happy Hypoxia bisa membuat pasien COVID-19 terlambat ditangani. Happy hypoxia dalam kondisi yang parah bisa menyebabkan kematian akibat kegagalan organ dalam.

Apa sebenarnya Happy Hypoxia dan bagaimana cara mengenalinya? Berikut enam fakta mengenai Happy Hypoxia yang dirangkum dari berbagai sumber:

1. Penyebab Hypoxia

Dilansir dari Medical News Today, Hypoxia adalah suatu kondisi di mana tidak cukup oksigen yang masuk ke sel dan jaringan di tubuh. Hypoxia terjadi ketika kadar oksigen dalam darah sangat rendah, sehingga membuat jaringan tubuh tidak mendapatkan cukup pasokan oksigen.

Oksigen yang diperlukan tubuh normalnya adalah 95 hingga 100 persen. Tingkat saturasi oksigen 95 persen dianggap normal untuk kebanyakan orang sehat. Tingkat 92 persen menunjukkan potensi hipoksemia, atau kekurangan oksigen mencapai jaringan dalam tubuh. Sedangkan hypoxia terjadi saat oksigen dalam tubuh mencapai kurang dari 90 persen.

Tanpa oksigen, otak, hati, dan organ lainnya dapat rusak hanya beberapa menit setelah gejala dimulai. Hypoxia dapat menyebabkan banyak komplikasi serius yang bisa mengancam jiwa.

2. Pengertian Happy Hypoxia

Jika hypoxia adalah suatu kondisi kekurangan oksigen dalam sel tubuh, lalu apa itu Happy Hypoxia?

Istilah Happy Hypoxia mulai muncul ketika gejala-gejala COVID-19 berkembang. Penelitian tentang Happy Hypoxia sendiri mulai dipublikasikan pada awal Juli lalu. Happy Hypoxia juga disebut dengan Silent Hypoxemia. Kondisi ini sempat membingungkan para ilmuwan. Lantaran gejala Happy Hypoxia berbeda dengan gejala Hypoxia pada umumnya.

Baca Juga :  Waspadai Penyakit MIS-C pada Anak yang Terinfeksi Virus Corona: Gejala Muncul 3-4 Minggu setelah Kena Covid-19, Bisa Tanpa Demam, Batuk, dan Sesak

Salah satu gejala umum dari hypoxia adalah sesak napas. Tetapi pada kasus Happy Hypoxia, pasien tidak mengalami gejala sesak napas, bahkan bisa beraktivitas secara normal. Meski tanpa gejala, orang yang mengalami Happy Hypoxia telah mengalami penurunan fungsi organ akibat kurangnya pasokan oksigen dalam darah.

Menurut Martin J. Tobin, MD, dilansir dari Loyola Medicine, ketika kadar oksigen menurun pada pasien dengan Covid-19, otak tidak merespons sampai oksigen turun ke tingkat yang sangat rendah (di mana pasien biasanya menjadi sesak napas). Inilah yang disebut dengan Happy Hypoxia.

3. Gejala Happy Hypoxia

Gejala Happy Hypoxia muncul di saat kadar oksigen dalam tubuh sudah menurun drastis.

Happy Hypoxia berbeda dengan Hypoxia biasa. Jika gejala Hypoxia pada umumnya berupa sesak napas, orang dengan Happy Hypoxia seringkali tidak mengalami gejalan ini.

Orang dengan Happy Hypoxia bahkan bisa berkegiatan seperti biasa padahal organ-organ vital di tubuhnya sudah mengalami kerusakan perlahan karena kekurangan oksigen.

Gejala Happy Hypoxia bisa tidak dirasakan sampai seseorang benar-benar mengalami kegagalan organ. Kondisi inilah yang bisa membuat pasien dapat meninggal secara mendadak, padahal sebelumnya mereka terlihat sehat dan biasa-biasa saja.

4. Sebabkan Kegagalan Kerja Organ Dalam

Covid-19 pada dasarnya adalah penyakit pernapasan. Tingkat oksigen darah ditemukan sangat rendah pada beberapa pasien Covid-19. Gejala Hypoxia memang umum pada orang dengan masalah pernapasan.

Akibatnya, Happy Hypoxia dapat menyebabkan kegagalan organ. Kegagalan organ yang sering terjadi akibat Happy Hypoxia adalah paru paru, jantung, dan otak. Namun kegagalan organ lain seperti hati dan ginjal juga dapat terjadi akibat Hypoxia.

Baca Juga :  Sragen Berduka, Ustadz Muda Habib MA Pimpinan Ponpes El Nusa Shobo Guno Meninggal Dunia Positif Terpapar Covid-19. Pemakaman di Ponpes, Tetap Dimakamkan Sesuai Protokol Covid-19

Kegagalan organ tubuh menunjukkan matinya jaringan di organ tersebut, seperti otak, paru-paru, dan hati yang tidak lagi berfungsi.

5. Bisa Sebabkan Kematian Mendadak

Happy Hypoxia yang bisa muncul tanpa gejala bisa menyebabkan matinya fungsi organ tanpa diketahui sebelumnya. Ini bisa berakibat pada kematian diam-diam. Happy Hypoxia menyebabkan seseorang mengalami kekurangan oksigen dalam darah tanpa gejala apapun.

Akibatnya, kondisi ini kerap tidak ditangani dengan cepat yang pada akhirnya berujung pada kematian mendadak, padahal pasien sebelumnya tampak biasa saja.

6. Mengenali Gejala Happy Hypoxia

Karena merupakan kondisi tanpa gejala, Happy Hypoxia sangat sulit dikenali. Cara yang cukup akurat dan terjangkau untuk mengenali ada tidaknya Happy Hypoxia adalah dengan pengecekan kadar oksigen dalam darah menggunakan alat yang disebut Pulse Oxymetry.

Dilansir dari Healthline, Pulse Oxymetry atau oksimetri nadi adalah tes non-invasif dan tanpa rasa sakit yang mengukur tingkat saturasi oksigen. Pulse Oxymetry merupakan perangkat kecil seperti klip yang menempel pada bagian tubuh, seperti jari kaki atau daun telinga.

Alat ini paling sering dijepitkan pada jari dan sering digunakan dalam pengaturan perawatan kritis seperti ruang gawat darurat atau rumah sakit. Beberapa dokter, seperti ahli paru, mungkin menggunakannya untuk pemeriksaan.

Pulse Oxymetry juga banyak dijual di tempat kebutuhan medis. Alat ini bisa ditemukan dengan mudah dan dimiliki siapa saja. Menggunakan Pulse Oxymetry bisa membantu mengetahui tingkat saturasi oksigen dalam tubuh dan mengenali gejala Happy Hypoxia secara dini. Liputan 6