JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

MUI Kecam Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang Disebut Bangkitkan Islamophobia, Netizen Ramai Ajak Boikot Produk Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto: Jacques Witt/SIPA/REX via Tribunnews.com
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan pernyataan sikap mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron atas pernyataannya terkait kasus pembunuhan seorang guru karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad saat mengajar.

Dalam pernyataannya, Presiden Macron mengatakan bahwa kasus pembunuhan seorang guru bernama Samuel Paty terjadi karena “para Islamis menginginkan masa depan kami”, tetapi Prancis “tidak akan menyerahkan kartun kami”.

Dalam keyakinan agama Islam, penggambaran Allah dan para Nabi adalah dilarang. Namun di Prancis telah terjadi beberapa kali insiden yang bermula dari penggambaran Nabi Muhammad dalam sebuah kartun.

Di Prancis, sekularisme telah menjadi identitas nasional dan membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan salah satu komunitas tertentu dinilai dapat merusak persatuan.

Terkait kasus ini, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, Muhyiddin Junaidi, menyebut pernyataan Presiden Macron secara tidak langsung menunjukkan dukungannya terhadap gerakan Islamophobia.

Baca Juga :  Beredar Isu Rizieq Shihab Terpapar Covid-19, FPI Langsung Membantah. Kirim Video Rizieq Main Bareng Cucu sebagai Bukti

“MUI menilai bahwa Macron secara tak langsung telah mendukung gerakan Islamphobia. Bahkan kecaman beliau terhadap pelaku pembunuhan atas wartawan Tabloid Charlie Hebdo telah menempatkan Macron sebagai pemimpin Eropa yang mendukung tumbuh suburnya gerakan Islamophobia,” ujar Muhyiddin melalui keterangan tertulisnya seperti dikutip Tribunnews, Senin (26/10/2020).

Ditambahkan Muhyiddin, presiden Prancis itu harus lebih banyak belajar tentang toleransi beragama. Menurutnya, kebebasan tanpa batas dan melawan norma justru akan menimbulkan kekacauan.

“MUI meminta kepada Menlu agar segera memanggil Dubes Prancis untuk Indonesia guna mendapatkan klarifikasi dan penjelasan komprehensif terkait sikap Pernyataan Presiden Macron,” lanjut pernyataan Muhyiddin.

Muhyiddin mengatakan, masyarakat Muslim di seluruh dunia sangat menyesalkan sikap Macron. Terlebih lagi pengungkitan kasus Charlie Hebdo ini dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Pengamat Usul Pertemuan Ma'ruf Amin dan Rizieq Shihab, Jubir Wapres: Belum Ada Agenda

Muhyiddin pun membandingkan sikap Presiden Prancis dengan Kanselir Jerman Angela Merkel yang dinilainya lebih dewasa dalam bersikap dan menghargai perbedaan sudut pandang di negara yang heterogen.

Seruan Boikot Produk Prancis

Sementara itu, perlawanan terhadap sikap Macron juga ditunjukkan oleh masyarakat di negara-negara Islam yang menyerukan untuk memboikot produk-produk buatan Prancis. Beberapa negara yang melakukan boikot di antaranya Kuwait, Yordania dan Qatar.

Di Indonesia, seruan boikot juga mulai terlihat di media sosial, terutama Twitter. Sejumlah netizen mengajak untuk tidak membeli atau menggunakan barang-barang buatan Prancis. Mereka juga mengunggah foto yang memuat beragam merek barang-barang milik perusahaan Prancis, mulai dari air mineral, susu formula, supermarket, otomotif, hingga fashion.

www.tribunnews.com